Headlines News :
Home » , » Banjir Dieng karena Alih Fungsi Lahan

Banjir Dieng karena Alih Fungsi Lahan

Written By mas_eko_keren on Rabu, 21 Desember 2011 | 11.35


WONOSOBO – Pencarian terhadap korban banjir bandang dan tanah longsor di Desa Tieng,Kecamatan Kejajar,Wonosobo hingga kemarin terus dilakukan. Tim pencari baru menemukan sembilan warga dari 11 yang dinyatakan hilang.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jateng mengungkapkan, selain hujan deras,bencana ini akibat alih fungsi lahan di kawasan pegunungan Desa Tieng dari hutan menjadi lahan pertanian secara tak terkendali.Aktivitas alih fungsi lahan oleh masyarakat Wonosobo ini sudah dilakukan puluhan tahun. Saat ini hampir semua lahan pegunungan di Wonosobo sudah berubah jadi lahan pertanian.

Akibat minimnya tanaman keras, dataran tinggi Dieng tidak mampu menyerap air.Perlu adanya rehabilitasi dengan melakukan penanaman tanaman keras dan penyadaran petani lokal. Kepala BPBD Jateng Sarwa Permana menuturkan, di dataran tinggi Dieng saat ini banyak ditanami kentang oleh petani.Menurutnya, musibah banjir bandang di Wonosobo ini mirip dengan kasus serupa di Pati,baru-baru ini.

Mestinya lahan pegununngan perlu ditanami randu, mangga dan tanaman lainnya sehingga air hujan tidak mampu diserap akibat kondisi alam yang telah berubah. Kabag Humas BPBD Kabupaten Wonosobo Agus Wibowo menjelaskan,alih fungsi lahan sudah berlangsung sekitar 30 tahun. Gencar-gencarnya kegiatan warga memanfaatkan hutan untuk lahan pertanian terjadi pada 1970-1980-an atau saat jaya-jayanya komoditas kentang.

Baru mulai pada 1990- an kegiatan alih fungsi lahan itu mulai berkurang seiring menurunnya masa kejayaan komoditas kentang itu. Mulai 1990-an lahan pertanian itu sudah kurang produktif akibat pemakaian obat-obatan kimia. ''Sekarang hutan sudah tidak ada,hampir semua gunung-gunung kecil hanya berupa hamparan tanah untuk kentang atau komoditas pertanian semusim lainnya,'' ungkapnya.

Dari kajian Tim Kerja Pemulihan Dieng (TKPD) dalam program pemulihan Dieng, paling tidak tercatat ada 5.700 hektare (ha) lahan yang rawan terhadap bencana longsor yang termasuk akibat alih fungsi lahan tersebut. Lokasinya ada di Kecamatan Kejajar, Watumalang, Garung, dan Mojotengah. ''Ada 27 desa di empat kecamatan itu,'' ujarnya. Berdasar kajian Badan Geologi potensi rawan bencana di empat kecamatan itu juga menyebutkan karena perubahan tata huna lahan.

Ditambah kondisi kemiringan lahan, sehingga sangat rawan terhadap bencana. BPBD mengakui penanganan akibat alih fungsi lahan itu sulit dilakukan. Sebab warga yang berada di kawasan rawan bencana tersebut tidak mungkin direlokasi atau bedhol deso. Yang bisa dilakukan hanya pemberian upaya adaptasi dan mitigasi bencana kepada masyarakat. Upaya lain adalah rekayasa demografi melalui peningkatan kapasitas kemampuan masyarakat.

Upaya ini pun membutuhkan waktu yang lama.Karena itu langkah antisipasi terhadap potensi bencana di daerah rawan bencana tetap dilakukan, yaitu di setiap wilayah desa dilakukan pemetaan kerawanan bencana, terutama wilayah permukiman. Anggota Komisi D DPRD Jateng Sri Praptono menilai program rehabilitasi dataran Dieng sampai kini hasilnya belum jelas terlihat.Padahal Setiap tahun Pemprov menganggarkan sekitar Rp400 juta, untuk rehabilitasi lahan.Selain di Wonosobo, juga dilakukan di Banjarnegara, Temanggung dan Kendal.

5 Korban Ditemukan

Pada hari ketiga pencarian terhadap 11 korban kemarin, tim kembali menemukan lima korban. Dengan begitu sembilan korban telah berhasil ditemukan sedangkan dua lainnya masih terus dicari. Kelima korban yang kemarin ditemukan adalah Tri Utami, 40; Beni Ishaq,30; Yulianti Ishaq,30; Jumiyati Muzaqi,31; dan Nur Wahyan,57. Beni dan Yulianti merupakan sepasang suami istri.

Sedangkan dua korban yang belum ditemukan adalah juga sepasang suami istri, yaitu Ahmad Nasikun,53, dan Nafisah Nasikun,56. Anggota Basarnas, Kantor SAR Semarang Hardi Amanurijal selaku Koordinator Operasi SAR dalam musibah ini mengatakan, kelima korban tersebut ditemukan di tiga tempat berbeda.Tri Utami ditemukan di jembatan Wonokromo,Mojotengah, Wonosobo.

Sedangkan pasangan Beni dan Yulianti serta Jumiyah Muzaqi ditemukan di Waduk Mrica,Bawang, Banjarnegara. ''Ditemukan sekitar 35-40 kilometer dari tempat kejadian bencana banjir bandang dan tanah longsor.Sebab,mereka terbawa oleh derasnya aliran Sungai Serayu yang bermuara di waduk,'' katanya kemarin. Nur Wahyan, kata Hardi, ditemukan di Wonokerto, Leksono, Wonosobo.

Saat ditemukan kondisinya sudah sangat mengenaskan karena wajahnya rusak dan bagian perut ke bawah sudah hilang, sehingga susah dikenali.Wahyan dapat dikenali setelah kedua kaki yang sebelumnya ditemukan di Waduk Mrica digabungkan. Berdasarkan catatan Posko Tanggap Darurat Banjir Bandang, di Kantor Desa Tieng, banjir bandang dan tanah longsor di Dusun Sidorejo, Desa Tieng ini, Minggu (18/12) juga menyebabkan 554 jiwa dari 172 kepala keluarga masih mengungsi.

Selain itu sebanyak 13 rumah hanyut dan tujuh rumah lainnya rusak berat serta sebuah TPQ hancur. Di Temanggung, hujan deras yang mengguyur wilayah Kecamatan Pringsurat dua hari terakhir membuat sebuah bukit longsor dan tembok pagar sebuah pabrik runtuh.Akibatnya, sebanyak 26 rumah warga rusak dan 58 sepeda motor karyawan pabrik ringsek. Meski tidak ada korban jiwa, namun kerugiannya ditaksir mencapai hingga ratusan juta rupiah.

Kejadian bukit longsor terjadi pada Bukit Kedawung di Dusun Kedawung, Desa Karangwuni, Kecamatan Pringsurat. Longsornya bukit dengan tinggi sekira 150 meter dan kemiringan 60 derajat ini juga membuat tiga jalan desa putus. Kejadian ini menimpa perkampungan empat dusun di Desa Karangwuni,dengan jumlah rusak yang karena tertimpa longsoran total 26 rumah warga.
Share this post :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Kang Lintas | Lintas Daerah
Copyright © 2011. Metro Post News - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Kang Lintas
Proudly powered by Lintas Daerah