Headlines News :
Home » , » PEDAGANG PASAR BARUGA MERASA TERANIAYA DENGAN ATURAN YANG TIDAK JELAS

PEDAGANG PASAR BARUGA MERASA TERANIAYA DENGAN ATURAN YANG TIDAK JELAS

Written By Metro Post News on Selasa, 13 Desember 2011 | 22.20

Kendari, MP.-Pasar Baruga adalah salah satu pasar penyangga tempat penampungan hasil tani dari pelbagai pelosok desa yang ada di Kendari maupun diluar kota Kendari, sehingga pasar ini dijadikan salah satu pasar pembongkaran barang-barang yang didatangkan dari luar Sultra maupun dari Sultra itu sendiri. Karena letaknya di Kecamatan Baruga, sehingga pasar ini dinamakan Pasar Baruga.
Namun para Pedagang yang menetap di pasar ataupun petani yang sedang membongkar hasil-hasil pertaniannya dipasar tersebut sangat tertekan oleh aturan-aturan yang dibuat oleh pengelola pasar tersebut, sebab aturan-aturan tersebut dibuat seenaknya tanpa ada tindakan dari pemerintah kota.

Pasar tersebut dikelola oleh ketua kerukunan pasar bernama Niko Samara beserta beberapa orang rekannya dan bekerja sama dengan kepala unit pasar bernama Sarifuddin, guna menambah bangunan los di depan bangunan yang sudah dibangun oleh pemerintah Kota dan kemudian memperjualbelikan kepada pedagang seharga 1,5 juta dengan harga letak 1x1,5 meter persegi.  Sementara lokasi pembongkaran barang-barang hasil pertanian diambil alih oleh ketua kerukunan pasar, dan para petani dikenakan biaya tempat senilai 3 juta- 4juta rupiah dengan panjar 200 ribu/petak selanjutnya para petani membayar 15 ribu – 20 ribu permalam.

Penambahan Loss yang dilakukan oleh Niko Samara dan direncanakan  akan membongkar tempat para pedagang yang dilengkapi dengan tiang serta atap pelindung dengan tujuan akan dibangunkan kios darurat yang tentunya dikenakan biaya. Sementara tempat para pedagang yang rencananya akan dibongkar oleh pak Niko  Samara, padahal kios tersebut  merupakan hadiah langsung kepada para pedagang oleh Walikota Kendari sebagai rasa syukur karena telah memenangkan Adipura untuk kedua kali.

Aturan lain yang sangat tidak relevan  yang dibuat oleh Niko Samara terhadap para pedagang adalah “Barang siapa yang hendak melakukan aktifitas jual beli atau masyarakat yang membawa hasil taninya di pasar Baruga harul memiliki KTP, Kecamatan Baruga”, sementara tidak semua yang melakukan aktifitas pembongkaran di Pasar Baruga adalah masyarakat Baruga, dan bila tidak mengikuti aturan tersebut, sebagai ketua kerukunan pasar akan mengusir bagi yang sudah menetap dan tidak diperbolehkan bagi orang yang datang membongkar  hasil taninya. Peraturan yang dibuat  Niko sangat bertentangan dengan  Nasir dan rekan-rekannya karena pada saat beliau membentuk  kerukunan pasar bertujuan untuk melindungi para pedagang karena  visi dan  misi kelompok ini bertujuan menjembatani aspirasi pedagang ketingkat legislatif maupun birokrasi. Namun apa yang dilakukan  Niko melenceng dari apa yang mereka canangkan setelah  Niko diangkat sebagai ketua.

 Nasir bersama rekan-rekannya  telah mengadu ke Pemko Kendari, bahkan langsung ditemui  oleh Wakil Walikota Kendari, namun  Musadar Mapasomba menyatakan dirinya bukan pengambil kebijakan.
 Pernyataan Seorang Wakil Walikota tersebut sangat tidak etis karena selaku penguasa no 2 Kota Kendari tersebut tidak mampu melindungi masyarakatnya, dan seakan-akan yang dilakukan oleh  Niko Samara terindikasi Ir. Asrun M.eng. SC selaku Walikota merupakan sutradara permainan aturan yang semena-mena yang dilakukan oleh Niko Samara kepada para pedagang yang mengharuskan pedagang memiliki KTP Baruga, dan tekanan ini diduga mengarah ke PILWALI Kendari  tahun  2012. Karena pengelola pasar sempat berstatement” silahkan melapor kemana saja”. (Rudia)
Share this post :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Kang Lintas | Lintas Daerah
Copyright © 2011. Metro Post News - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Kang Lintas
Proudly powered by Lintas Daerah