Headlines News :
Home » » Afriyani Susanti Di Balik Tulisan Tangannya

Afriyani Susanti Di Balik Tulisan Tangannya

Written By Metro Post News on Senin, 30 Januari 2012 | 18.32

Di balik kehebohan tragedi Tugu Tani, peristiwa kecelakaan mobil yang menewaskan 9 orang sekaligus, banyak orang yang berspekulasi mengenai sosok Afriyani Susanti. Responnya yang terkesan "dingin" menimbulkan banyak hujatan terhadap dirinya sekaligus pertanyaan. “Masihkah Afriyani Susanti memilik perasaan sebagai seorang manusia?” Melalui tulisan tangan Afriyani, Deborah Dewi (@deborahdewi) - ahli grafologi - mencoba menelaah sosok asli Afriyani.
Pada waktu tulisan ini dibuat, di balik ekspresinya yang tenang dan datar, faktanya saat ini Afriyani sedang mengalami tekanan emosional yang cukup hebat. Namun ia berhasil menutupi hal itu dengan sangat baik. Sebagai individu yang tidak ekspresif, Afriyani bukannya tidak memiliki perasaan seperti yang diduga oleh banyak orang. Fakta yang terungkap dari tulisan tangannya menginformasikan bahwa ternyata ia adalah individu yang represif. Dengan kata lain, Afriyani bahkan cenderung selalu menekan perasaannya, menyimpannya untuk diri sendiri, dan memilih untuk tidak menunjukkannya kepada orang lain.
Semua orang yang memiliki kemiringan tegak dalam tulisan tangannya atau dalam dunia grafologi dikenal dengan istilah vertical slant (a) juga akan melakukan hal yang sama dalam hal mengekspresikan emosi atau perasaannya kepada orang lain. Afriyani akan selektif dan hanya menunjukkan perasaan yang sebenarnya kepada orang-orang yang dapat dipercayainya, ketika dia merasa nyaman dengan lingkungan atau orang-orang tersebut.
Emosi yang tidak stabil, berlebihan, dan tidak berpikir panjang. Tiga hal tersebut sangat kuat “disuarakan” oleh tulisan tangan Afriyani. Garis dasar tulisannya yang tidak beraturan dalam tulisan tangannya (b) menunjukkan perilaku emosi yang tidak stabil. Hal ini mengakibatkan ia mengalami perubahan emosi yang naik turun atau sering kita kenal dengan istilah moody. Dengan adanya penggunaan huruf kapital yang tidak pada tempatnya, ia juga merespon sebuah situasi dengan kadar yang berlebihan.

Dua faktor tersebut mengakibatkan Afriyani memiliki emosi yang fluktuatif. Terlalu sedih, terlalu marah, atau terlalu senang semuanya serba “terlalu” dan bahkan bisa berubah-ubah hanya dalam hitungan hari atau bahkan jam. Namun karena ia tergolong dalam individu yang represif, tidak mengekspresikan emosinya secara langsung, kecenderungannya dia jadi mencari  “alternatif” lain untuk mengekspresikan perasaannya. Melampiaskannya pada narkoba misalnya. Dominasi zona tengah dalam tulisan tangannya (d) mencerminkan fokus hidup penulis yang terletak hanya pada hari ini saja. Sehingga  penulis tidak memiliki pertimbangan jangka panjang dalam setiap keputusan yang diambilnya.
Beberapa faktor tadi adalah gambaran di balik mengapa Afriyani tidak berpikir panjang dalam bertindak sehingga peristwa tragedi Tugu Tani tersebut menjadi puncak dari tekanan emosi yang dialaminya. Hanya sayang “diekspresikan” dengan cara yang tidak bijak yaitu konsumsi alkohol dan narkoba.

Tidak ada satu pun tulisan tangan di dunia ini yang memiliki interpretasi 100% positif atau 100% negatif. Bagaikan dua sisi mata uang, akan selalu terdapat hal yang positif dan negatif sekaligus di dalamnya. Hal yang sama juga berlaku untuk tulisan tangan Afriyani Susanti yang dianalisis oleh grafolog Deborah Dewi (@deborahdewi) berikut ini.

Di balik emosinya yang tidak stabil, berlebihan, serta tidak memiliki fokus hidup yang berorientasi pada efek jangka panjang di balik keputusan-keputusannya, toh tetap saja Afriyani memiliki sisi positif sebagai seorang manusia normal. Stigma publik tentang “pembunuh berdarah dingin” yang terlanjur “dilekatkan” pada pelaku tragedi Tugu Tani tersebut sebenarnya agak sedikit berlebihan jika ditinjau dari aspek proyeksi diri Afriyani yang tercermin dari tulisan tangannya.

Mengapa demikian?

Tidak terlihatnya ekspresi perasaan bersalah pada Afriyani sesaat setelah tragedi tersebut terjadi sangat besar kemungkinannya disebabkan oleh dua hal:
  • Afriyani masih berada dibawah pengaruh alkohol dan narkoba. Efek high yang dialaminya setelah menenggak minuman keras dan obat-obatan terlarang jenis psikotropika membuat yang bersangkutan sulit membedakan antara realita dan ilusi. Besar kemungkinannya bahwa Afriyani masih “bingung” apakah peristiwa tragis tersebut realita atau hanya sekedar ilusinya?
  • Dengan karakteristik kemiringan tegak lurus atau vertical slant pada tulisan tangannya seperti pada analisis pertama, sekali lagi Afriyani adalah sosok individu yang represif. Tidak ekspresif. Menekan perasaannya sendiri. Tidak mengungkapkan rasa gembira, marah, sedih, atau bahkan takut. Datar. Tidak terlihat merasa bersalah itu berbeda dengan tidak merasa bersalah.
"Yang ingin saya garis bawahi dalam ulasan tentang karakteristik pemilik tulisan tangan dengan kemiringan tegak lurus atau vertical slant adalah tidak mengekspresikan perasaannya itu BERBEDA dengan tidak memiliki perasaan. Afriyani jelas memiliki perasaan. Sedih, takut, menyesal juga pasti menghinggapinya. Hanya, ia tidak mengekspresikan perasaannya. Bukan berarti tidak memiliki perasaan. Terlihat dengan jelas 'gejolak' perasaan yang 'terekspresikan' dalam perubahan bentuk tulisan tangannya," kata Deborah.
Sisi positif dari pemilik tulisan tangan vertical slant adalah penulis mampu menunjukkan kepeduliannya kepada sekitar tanpa terlihat rapuh. Hal ini membuat keberadaannya dalam situasi yang terburuk sekalipun mampu menguatkan lingkungannya, meskipun pada kenyataannya, di waktu yang sama penulis juga sedang mengalami tekanan.

Seringkali karena tidak suka merepotkan orang lain - tanpa disadari - justru mereka selalu mengatasi segala sesuatunya seorang diri. Bagaikan seekor angsa yang tetap terlihat anggun melaju di atas permukaan air, meskipun di waktu yang bersamaan kakinya bekerja keras di bawah permukaan air.

Terlihat tenang tidak sama dengan tenang.
Share this post :
 
Support : Creating Website | Kang Lintas | Lintas Daerah
Copyright © 2011. Metro Post - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Kang Lintas
Proudly powered by Lintas Daerah