Headlines News :
Home » , » Kampung Pulo Geulis, Pemukiman Ditengah Sungai

Kampung Pulo Geulis, Pemukiman Ditengah Sungai

Written By Metro Post News on Jumat, 20 Januari 2012 | 16.37

BOGOR, MP — Ribuan warga Pulo Geulis di Kota Bogor, Jawa Barat, tak bisa dibilang penghuni bantaran Sungai Ciliwung. Mereka justru bermukim di tengah sungai itu. Jika air Sungai Ciliwung meninggi di saat-saat tertentu pada musim hujan, kampung mereka seperti ”kapal induk” yang dikelilingi air sungai setinggi 2-3 meter.

Kamis (19/1) pagi, cuaca di Kelurahan Babakan Pasar, Kecamatan Bogor Tengah, lokasi administratif Pulo Geulis, sangat cerah. Sinar matahari justru sedang terik. Air Sungai Ciliwung yang mengelilingi Pulo Geulis masih rendah. Beberapa ibu terlihat mencuci pakaian di tepian Ciliwung. Di Bendung Katulampa, pos pemantauan Ciliwung, ketinggian air saat itu normal, hanya 20 sentimeter.

Hasanah (41) dibantu tiga anaknya sibuk membuat sate usus di dapur rumahnya. Rumah yang dihuni Hasanah bersama enam anggota keluarganya memiliki satu pintu yang menghadap Sungai Ciliwung. Rumahnya persis berada di ujung Pulo Geulis. Dari pintu rumahnya tampak dua aliran Sungai Ciliwung yang terbelah Pulo Geulis kembali menyatu.

”Tahun 2010 lalu, air sampai pintu rumah. Saya langsung keluar ke tengah kampung,” tutur Hasanah. Pintu rumahnya berketinggian sekitar 50 sentimeter dari tanah. Sementara tanah di depan rumahnya hampir 2,5 meter dari dasar Ciliwung.

Dia mengaku khawatir jika sewaktu-waktu air akan kembali naik tinggi. Salah satu antisipasi yang dilakukan jika sudah masuk bulan Januari-Februari, puncak musim hujan, ialah memindahkan barang elektronik ke tempat yang tinggi sehingga begitu ada informasi air Ciliwung naik dari Bendung Katulampa, dia tinggal mengungsi.

Ahmad Safei (58), tetangga Hasanah, pagi itu, sedang duduk di depan warung, sekitar 50 meter dari rumahnya. Ia ingat betul banjir besar yang menghancurkan rumahnya pada tahun 1970-an. Saat itu, hujan cukup deras baik di hulu Sungai Ciliwung di Puncak maupun sekitar Kota Bogor.

Air awalnya naik perlahan, tetapi kemudian mencapai tepian Pulo Geulis. Rumah Safei yang berada di tepi Pulo Geulis hanyut terbawa air sungai.

Tak lama setelah itu, Safei menjual rumahnya. Di lahan bekas rumah Safei sudah kembali dibangun rumah, tetapi dengan ukuran lebih kecil karena banjir saat itu turut membawa serta jalan setapak di depan rumahnya. Safei akhirnya kembali membeli rumah di Pulo Geulis, tetapi agak ke dalam, tidak terlalu dekat Ciliwung.

Karena itu, saat banjir besar kembali menggenangi Pulo Geulis tahun 1997, rumahnya aman. Saat itu, seingat Safei, ada belasan rumah warga hanyut, terutama di tepian sungai. Menurut dia, seorang warga juga tewas saat itu.

Pulo Geulis memiliki luas 2-2,5 hektar, terdiri atas lima RT yang tergabung dalam satu RW. Kawasan ini dihuni 650 keluarga dengan jumlah penduduk hampir mencapai 2.000 orang. Di kampung ini hanya ada jalan setapak yang lebih menyerupai labirin karena begitu berdempetan antara satu rumah dan rumah lain.

Kampung ini seperti tanah timbul di tengah sungai. Bentuknya oval dengan ujung meruncing. Hanya ada empat jembatan yang menghubungkan kampung itu dengan daratan, tetapi jika sedang hujan deras, terutama di daerah hulu Ciliwung, dan air tinggi, warga tidak berani melintas. Satu jembatan pernah hancur diterjang banjir.

Soal bagaimana asal mula Pulo Geulis, tak ada warga yang ingat. Ada yang mengatakan dahulu hanya ada satu aliran sungai, tetapi Belanda kemudian membuat satu aliran lagi dengan menjebol sebagian sisi Pulo Geulis yang menyatu dengan Jalan Bangka di Bogor Timur. Namun, ada juga yang menyebutkan permukiman di tengah sungai itu sudah lama ada, terbukti dari keberadaan Kelenteng Phan Ko yang berusia ratusan tahun di kampung itu.

Kepala Seksi Program Balai Pengelolaan DAS Citarum-Ciliwung Nurhasni mengaku belum pernah menemukan dokumen yang menjelaskan sejarah Pulo Geulis. Bagi dia, idealnya tak boleh ada perkampungan di tengah sungai.
Share this post :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Kang Lintas | Lintas Daerah
Copyright © 2011. Metro Post - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Kang Lintas
Proudly powered by Lintas Daerah