Headlines News :
Home » » Pemprov Nggak Punya Nyali Bela Pasar Rakyat Minimarket Makin Banjiri Jakarta

Pemprov Nggak Punya Nyali Bela Pasar Rakyat Minimarket Makin Banjiri Jakarta

Written By Metro Post News on Rabu, 25 Januari 2012 | 23.00

Minimarket makin membanjir di Jakarta. Diduga, ada ke­senga­jaan ulah oknum Pemprov DKI Jakarta. Pemprov juga dinilai tak bernyali menghentikan perkem­bangan yang mengancam pasar tradisional ini.
Meski sudah memasuki usia 45 tahun, Perusahaan Daerah (PD) Pa­sar Jaya belum mampu me­ngem­bangkan pasar tradisional men­jadi pusat ritel di Jakarta. Se­baliknya, pasar tradisional ma­­kin terancam, seiring men­ja­mur­nya minimarket.
Kritik itu dilontarkan anggota Komisi B DPRD DKI Jakarta S An­dyka di Jakarta, kemarin. Dia juga memper­ta­nya­kan hasil Pa­ni­tia Khusus (Pan­sus) minimar­ket yang diben­tuk DPRD DKI.
“Sekarang ke­ma­na hasil Pan­sus, hanya bo­hong-bohongan sa­ja,” kritik Andyka.
Menurutnya, hasil Pansus se­harusnya dibahas dalam sidang paripurna. Tapi, sampai saat ini be­lum ada upaya DPRD untuk itu, guna membahas hasil Pan­sus tersebut.
“Anehnya lagi, saat Pansus Pa­­sar berjalan, minimarket tum­buh dimana-mana. Adanya Pan­sus percuma,” ketusnya.
Direktur Eksekutif Masyarakat Pemantau Ke­bijakan Eksekutif dan Legis­latif (Majelis), Sugi­yanto menya­takan, terancamnya eksistensi pasar tradisional lan­taran penge­lolaan yang dilakukan PD Pasar Jaya setengah hati.
“Pasar tradisonal yang ada di Jakarta, mayoritas tidak terurus, ko­tor, sempit, becek, bau serta ti­dak menarik dikunjungi,” katanya.
Sugiyanto menjelaskan, bukti ketidakpedulian PD Pasar Jaya, dapat dilihat dari kondisi pasar ta­disional yang sangat mempri­ha­tinkan tersebut.
Sebenarnya, kata Sugiyanto, bisnis pasar tradisional ada­lah bis­nis menguntungkan dan sa­ngat prospektif dikembangkan. Ini kembali kepada kemampuan dan kinerja PD Pasar Jaya untuk bisa meng­opti­malkan tugas po­kok dan fungsinya.
Bagaimanapun, nilainya, me­nge­lola pasar harus konsisten, pe­dagang pun perlu dibina. Ter­ma­suk mengenai pasar yang su­dah direnovasi, namun ternyata ma­sih banyak pedagang yang me­­mi­lih menggelar dagangan­nya di pinggir jalan, hingga meng­­gang­gu lalulintas. Hal demi­kian, kata  Sugiyanto, disebab­kan re­novasi pasar yang tidak mem­per­hatikan kondisi pasar.
Melihat kenyatan itu, dia me­minta PD Pasar Jaya segera me­ngambil langkah cepat demi me­nyelamatkan dan mengem­bang­kan  keberadaan pasar tradional.
Menyangkut menjamurnya  minimarket, pemerhati ling­ku­ngan Slamet Daryoni me­nya­ta­kan, sudah banyak pelanggaran yang dilakukan pe­ngusaha. Un­tuk itu, dia meng­ingatkan, bila sudah jelas melanggar, minimar­ket itu harus digusur. “Para pem­beri izin juga harus diberi sanksi tegas karena hal ini mematikan pasar tradisional,” tegasnya.
Membanjirnya di Jakarta, dicurigai Slamet ada kesenga­jaan dari oknum di Pemprov DKI Ja­karta. “Karena yang ber­main ada­lah mereka yang mem­punyai mo­dal, sehing­ga banyak minimarket dibangun,” katanya.
Kondisi ini, ujar pengamat perkotaan Yayat Supriyatna, mem­perlihatkan Pemprov DKI Jakarta tak punya nyali meng­hentikan pem­bangunan mini­mar­ket.
“Hal inilah yang menyebabkan mandulnya Perda Nomor 22 Ta­hun 2002 tentang Per­pa­saran swasta. Payung hu­kum­nya sudah ada. Yang tidak ada ha­nya ke­beranina. Pemprov nggak punya nyali,” cetus Yayat.
Karenanya, dia menegaskan, diperlukan langkah strategis de­ngan merevisi Perda Per­pasaran. Terutama, terkait jarak antara pasar modern dengan pasar tra­disional. “Yang jelas-jelas me­mangsa pasar tradisional ya ha­rus di­gusur,” tegasnya.
Share this post :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Kang Lintas | Lintas Daerah
Copyright © 2011. Metro Post - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Kang Lintas
Proudly powered by Lintas Daerah