Headlines News :
Home » , , » Oknum Polisi Aniaya Kader Pemuda Pancasila

Oknum Polisi Aniaya Kader Pemuda Pancasila

Written By Metropost on Jumat, 24 Februari 2012 | 18.28

pitung,alias muh. Andika ramadhan

JENEPONTO, MP - Polisi adalah pelayan masyarakat dan sebagai penegak Hukum, apa jadinya jika Negara  ini tampa polisi , Namun apa jadinya juga negara ini, jika polisi tidak profesional dalam menjalankan tugasnya yang jika tidak sesuai kode etik sebab polisi sebagai abdi masyarakat.
Seperti pada kasus penangkapan Pitung Alias Muh. Andika Ramadhan umur 18 tahun pelajar  SMK alamat lorong macam kel. Empoang kab . jeneponto sulawesi-selatan, pitung mengalami nasib Naas Senin 16 Januari 2012 sekitar pukul 22,30 wita. polisi menggeledah di sekret pemuda pancasila dengan cara gaya premanisme alias tidak beretika , dari hasil penggeledahan  itu telah berhasil menyeret pitung bersama Marica kemapolres jeneponto.
Namun polisi yang seharusnya melindungi dan mengayomi malah menyiksa serta memaksa mengakui perbuatan yang tidak pernah dilakukannya dan dijebloskan kedalam sel tahanan tampa mengetahui apa kesalahannya.
Berdasarkan surat perintah penangkapan nomor: sp/kap/14/I/2012  reskrim, maka nama-nama yang menggeledah sekretariat pemuda pancasila dan melakukan penangkapan terhadap pitung  diantaranya IPTU Ahmad hamdani , S,com ( kanit Idit IV Reskrim ) NRP. 84021527, bersama Bribtu sumardi, NRP. 82011058, Briptu Sahrul NRP.8 4020833, dan Briptu Asfu Sahrir NRP. 59070885.
Diruang kanit reskrim polres jeneponto 17 januari 2012, pitung kepada metropost menceritakan kronologis penangkapan dan penyiksaannya  sekitar pukul 22.30 wita,” saya didatangi polisi dikantor sekret pemuda pancasila Jl. Lanto dg pasewanng No. 27 Kel.Empoang  Jeneponto.  polisi menanyakan kareng tumpu, lalu saya bilang kareng tumpu sudah pulang.
Lanjut pitung menceritakan, terus langsung diborgol dan dibawa kepolres. Kemudian ditanyakan rumah bunda( marica bambang ), lalu saya katakan tidak tahu karena belum pernah kerumahnya , lalu saya dipukul dibagian muka dan perut, disuruh jalan pake lutut, dipukul pake batu, baru dipindahkan keruang lain disirang air baru dipukul lagi. Kemudian muka ditutup pake kain baru dipukul pake mistar dan ditampeleng dipaksa ngaku,  menjelang waktu subuh lalu dimasukkan ke sel.
Kelakuan oknum polisi diduga sikapnya layaknya preman  terhadap pitung diperlakukan dengan cara yang tidak wajar pada saat pemeriksaan, coba bayangkan ketika muka ditutup lalu dipukul dan ditampeleng hinggah luka dibagiang bibir, tidak hanya itu dia juga dipukul pakai batu lalu disiram air”jelasnya.
 Ketua srikandi pemuda pancasila kab. Jeneponto Siti Marica daeng bambang, mengatakan, sangat keberatan dan tidak terima atas penangkapan terhadap dirinya lantataran tidak pernah melakukan apa-apa yang dituduhkan kepadanya. Kalau baru disinyalir lantas anggota Reskrim polres jeneponto datang dan hampir mendobrak pintu tengah malam pula, dan ini sangat keterlalauan dan tidak manusiawi. Apalagi polisi, sebagai pengayon dan pelindung, serta pelayan masyarakat yang tidak seharusnya sekejam itu , masih ada cara-cara lain yang profesional yang diajarkan saat pendidikan, sekarang saya malah takut sama polisi.
Selanjutnya, satu lagi yang tidak bisa saya lupakan saat masih diruang penitipan tahanan polres jeneponto, ada polisi yang bernama Alam yang mengatakan, sambil membentak “ kembalikan itu LCD Protector, jangan takut bicara, mentang-mentang ada bosmu disampingmu “ kata oknum polisi Alam sangat tidak enak, yang mana baru diduga bahkan tidak ada bukti.
  Bahwa kasus pencurian yang dialamatkan kepada pitung dan ketua srikandi pemuda pancasila  siti Marica daeng Bambang tidak terbukti sama sekali, dan tidak seharusnya  langsung memvonis  begitu rupa “katanya. Pihaknya juga akan melaporkan kepropam polda selsulbar. terhadap oknum polisi  yang melakukan tindakan yang dianggapnya sudah keluar dari kode etik”, ucapnya.
 Ketua Pemuda Pancasila kabupaten jeneponto Drs. Ilyas Mattewakang, MM sangat menyesalkan perilaku oknum polisi yang sewenang-wenang  melakukan penangkapan yang tidak mempunyai etika, Menggeledah Markas kami tampa izin, saat diminta komentarnya terkait kasus yang memfitna anak buahnya mengatakan, bahwa kami datang kesini ingin memjemput kader-kaderku yang tidak besalah terhadap apa yang dituduhkan terhadapnya.
Selaku aparat penegak hukum,  yang dilakukan oleh anggota reskrim polres jeneponto yang seharusnya memberikan perlindungan pengayoman dan pelayan kepada masyarakat. Menaggapi kasus ini, kasat Reskrim jeneponto AKP. Amiruddin meminta maaf kepada pemuda pancasila dan ketua srikandinya dan berjanji akan melakukan teguran pembinaan terhadap anggotanya. (ZulL )
Share this post :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Kang Lintas | Lintas Daerah
Copyright © 2011. Metro Post - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Kang Lintas
Proudly powered by Lintas Daerah