Headlines News :
Home » » Warga Miskin Jakarta Menjadi Tumbal Swastanisasi Layanan Air

Warga Miskin Jakarta Menjadi Tumbal Swastanisasi Layanan Air

Written By Metropost on Minggu, 04 Maret 2012 | 15.10

Dengan sistem fullcost recovery dalam swastanisasi PAM Jaya, maka 100 % pembiayaan akan ditanggung pelanggan melalui tarif. Artinya ratusan milyar rupiah kerugian PAM Jaya akibat ongkos kerja operator swasta yang selangit, plus ratusan milyar rupiah keuntungan yang dikantongi Palyja dan Aetra HARUS ditanggung pengguna layanan PAM Jaya melalui tarif!
Dan warga miskin harus menanggung kerugian berlipat; sebagai pelanggan PAM Jaya, mereka tak pernah menjadi prioritas karena membayar tarif yang rendah -- akibatnya mereka terpaksa membeli air dari pedagang keliling, dan tetap dipaksa untuk membayar rekening air yang tak pernah mengalir.
Penjaringan adalah salah satu daerah termiskin di DKI Jakarta. Jalanan menuju tempat itu, dan tempat itu sendiri, adalah semacam ironi dari gegasnya pertumbuhan ibu kota. Kiri kanan adalah bangunan- bangunan separo rusak, separo tak berpenghuni, sampah yang berserakan, serta aroma busuk bakteri anaerob dari kali yang hanya mengalir air berwarna hitam.

Kemiskinan seperti tidak bisa diusir dari sana. Di tempat yang bahkan sopir taksi pun tak mengenali jalanannya itu, ribuan orang menggantungkan hidup dari penghasilan yang serba tak pasti.

Air adalah satu dari sekian ketidakpastian. Di tempat itu, air sama sulitnya dicari seperti uang.

“Daerah sini air susah sekali didapat,” keluh Endang, 41 tahun. Bapak dengan empat orang anak ini telah lebih dari sepuluh tahun membangun keluarga di Jakarta. Mulanya ia bekerja di pabrik konveksi, sebelum PHK membuatnya menjadi pengangguran. Ia kini mencari nafkah dengan bekerja serabutan, termasuk menjadi hansip di kelurahan.

Pengakuan Endang bukannya mengada-ada. Karena tempat itu berdekatan dengan laut, air sumur tidak bisa diharapkan untuk minum. Untuk mencuci pun, air terlalu keruh. Maka, untuk mendapatkan air bersih , penduduk ditempat itu menggunakan berbagai macam cara. Sebagian besar seperti yang dilakukan Endang, membeli air per gerobak setiap hari, yang lain berlangganan air perpipaan atau biasa disebut air ledeng perusahaan swasta PAM Lyonnaise Jaya (Palyja). Dan beberapa lainnya masih terpaksa menggunakan sumur.

Semua cara itu tidak ada yang mudah. Setiap hari orang-orang masih harus merasa kesulitan mendapatkan air bersih. Warga yang cukup mampu berlangganan sambungan pipa Palyja pun tak menjadi lebih mudah mendapat air.

Seorang ibu rumah tangga, Yiyin, mengaku air hanya mengalir antara jam dua hingga jam tiga malam. Alirannya pun sangat kecil. Dalam satu malam ia hanya bisa mendapat dua ember air bersih. Itu pun tiga hari sekali. Memang cukup menimbulkan pertanyaan layanan oleh perusahaan swasta kaliber internasional yang telah berlangsung sejak lebih dari sepuluh tahun lalu masih menghadapi persoalan seperti gagalnya mengalirkan air pipa setiap hari.

Padahal awal masuknya perusahaan swasta ini salah satunya untuk mengatasi masalah semacam itu. Bahkan perusahaan swasta yang diundang pun ada dua, dengan pembelahan Jakarta dibatasi Ciliwung untuk membagi wilayah layanan. Bagian timur Jakarta digarap oleh PAM Lyonnaise Jaya (PALYJA), sementara bagian barat Jakarta digarap oleh PT Thames PAM Jaya, kini PT AETRA Air Jakarta.

Konsesi dimulai pada Juni 1997, saat PAM Jaya, sebuah perusahaan air minum yang dimiliki oleh Pemerintah DKI Jakarta, menjalin kerja sama dengan dua operator swasta yaitu PT Thames Pam Jaya (TPJ) dan PT Pam Lyonnaise Jaya (Palyja). Sebagian besar saham Palyja dimiliki oleh Suez Environnment dari Prancis, sementara TPJ semula dimiliki oleh Thames Water dari Inggris dan sejak awal 2007 telah berpindah tangan ke Acuatico. Dua perusahaan swasta ini masing-masing memperoleh hak tunggal untuk menyediakan layanan air minum bagi seluruh penduduk Jakarta.

Sebagaimana yang diungkapkan oleh Syamsu Romli, yang saat itu menjabat sebagai direktur PAM Jaya, setahun sebelum kerja sama dengan dua mitra swasta mulai berlaku. “It will be too long to wait for PAM Jaya to improve it's performance, while the population is also growing,” ujar Romli seperti dikutip Asia Pulse, 23 Januari 1997.

Selain itu, PAM Jaya mengaku gentar dengan besarnya investasi yang mesti ditanggung selama 25 tahun berikutnya. Maka kerja sama dengan mitra swasta menjadi masuk akal, setidaknya dari argumen PAM, agar air bisa menjangkau seluruh Jakarta dengan baik. Kala itu Romli juga sempat menjanjikan bahwa kerja sama dengan mitra swasta tidak akan membuat masyarakat terbebani tarif air yang tinggi.
Share this post :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Kang Lintas | Lintas Daerah
Copyright © 2011. Metro Post - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Kang Lintas
Proudly powered by Lintas Daerah