Headlines News :
Home » » Jakarta Makin Krisis Lahan Pemakaman

Jakarta Makin Krisis Lahan Pemakaman

Written By Jainal Fatmi on Selasa, 26 Juni 2012 | 21.54



JAKARTA, MP -Jakarta krisis lahan pemakaman. Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta diminta segera mencari lokasi lahan alternatif. Tempat pemakaman yang ada seperti di Joglo, Karet, Tanah Kusir dan Jeruk Purut, sudah tidak memadai. Perlu ada lahan baru yang lebih luas.
Pengamat perkotaan dari Universitas Trisakti Yayat Su­priyatna mengungkapkan, lahan pemakaman di ibukota sudah tidak me­ma­dai lagi. “Sebetulnya Jakarta sudah krisis taman pe­makaman, kemampuannya su­dah tidak me­madai,” tegasnya.
Yayat memberi contoh taman pemakaman yang sudah tidak me­madai, yakni di kawasan Jog­lo, Jakarta Barat. Di sana, ber­da­sarkan pengamatannya, aspal saja dibongkar untuk la­han pe­maka­man.
“Yang ada sekarang se­kadar memakamkan saja. Di beberapa tempat, sudah kesuli­tan lahan pema­kaman baru. Be­berapa bah­kan sudah tumpang tindih dan bong­kar pasang,” jelasnya.
Dia khawatir, praktik kani­ba­lisme akan semakin marak di Jakarta mengingat terbatasnya lahan pemakaman.
“Lahan ku­buran yang lama, ditimpa dengan jenazah yang baru. Harus dicari solusi baru, dengan melakukan pem­bangu­nan lokasi pemakaman baru di wi­layah pinggiran,” sarannya.
Yayat menegaskan, walau pi­hak Pemprov DKI pernah me­ng­atakan, lahan pemakaman akan cukup hingga 2030, na­mun dia tidak yakin lahan itu digu­na­kan tidak dengan metode bong­kar pasang. “Yang seka­rang, la­han lama dipaksakan agar cu­kup,” tuturnya.
Soal keterbatasan lahan pema­kaman ini, Yayat memang tidak sembarang bicara. Dia sudah me­lihat sejumlah lokasi pemaka­man. Makanya, dia yakin ka­pa­sitasnya sudah tidak me­madai. Bahkan ada pemakaman yang me­maksakan menggali makam hingga sampai ke dekat gerbang.
“Sudah memakamkan bukan di arealnya lagi. Tidak ada keter­aturan di pemakaman,” jelasnya.
Untuk mengantisipasi ini, Ya­yat menyatakan, pema­kaman seperti San Diego Hills atau pe­makaman lain bisa menjadi pi­lihan. Namun sayangnya, lahan pemakaman itu hanya buat mere­ka yang punya uang.
“Bagi me­reka yang tidak pu­nya uang, mau tidak mau solusi bongkar pa­sang jadi pilihan,” ujarnya lirih.
Untuk diketahui, San Diego Hills Memorial Parks and Fu­neral Homes di Karawang, Jawa Barat itu, menjadi peristirahatan terakhir sejumlah warga elite Indonesia. Pihak pengelola, yaitu Lippo Group, me­nyebut­nya sebagai ka­wasan pe­ma­ka­man pertama di dunia yang me­­nawarkan keleng­kapan fasi­litas yang memadai.
Sekretaris Komisi Fatwa Ma­jelis Ulama Indonesia (MUI) Asrorun Niam Sho­leh menga­mi­ni jika lahan pemakaman di Ja­karta sudah memasuki tahap kritis. Tidak heran bila di se­jumlah pemakaman diberlaku­kan bong­kar pasang.
Maksud dari bongkar pa­sang, kata Niam, kuburan yang sudah lama dibongkar dan diisi jasad baru. Biasanya ini berla­ku bagi jasad satu keluarga.
“Aturan fiqih (hukum Islam-red)-nya adalah dikuburkan. Jika tidak ada tanah lagi untuk me­ngu­burkan kecuali di situ, di­mungkinkan,” jelasnya.
Namun, kata Niam, akan lebih baik bila keter­se­diaan tanah ma­kam diuta­makan. Ka­rena me­nguburkan jenazah bagi umat Islam adalah men­jalankan ke­wajiban menu­naikan hak jena­zah. “Dalam hal ini pe­merintah wajib men­jamin ke­tersediaan lahan makam dan ber­wenang mengaturnya,” katanya.
Masih Ada 202 Hektare Lahan Makam Kosong
Pemprov DKI Jakarta menja­min tidak ada krisis lahan pe­makaman di Jakarta. Masyara­kat tidak perlu khawatir, karena ma­sih ada ra­tusan hektare la­han ko­song yang siap dipakai untuk pemakaman.
    Kepala Dinas Pertamanan dan Pemakaman DKI Jakarta Catha­rina Suryowati mengatakan, la­han peruntukan untuk makam masih cukup. Katanya, ada 202 hektare lahan yang disiapkan.
   Lokasi makam itu tersebar di sejumlah wilayah, seperti di Pon­dok Rangon (Jakarta Timur), di Rorotan (Jakar­ta Utara) dan di Kampung Kan­dang.
   “Lahan yang itu masih per­lu di­matangkan. Saat ini belum bi­sa dipakai, tapi alokasinya un­tuk pe­makaman,” terangnya.
Peruntukan lahan itu pun tidak akan diganggu gugat, khu­sus un­tuk makam saja. Tidak akan di­pakai untuk gedung. “Tidak usah khawatir soal lahan makam. La­gi pula kan umur harapan hidup ma­kin tinggi,” imbuhnya.
Berkaitan mahalnya biaya pe­nguburan, Catharina menje­las­kan, untuk menguburkan je­nazah itu paling mahal Rp 100 ribu. Bah­kan bisa juga gratis bagi warga yang tidak mampu.
Khusus soal harga Rp 100 ribu itu, diberikan untuk lokasi yang VIP, kelas A1 di area paling de­pan. Biaya itu pun sudah ter­masuk sewa untuk 3 tahun.
“Biaya retribusi, yang mahal kelas A1 Rp 100 ribu, A2 Rp 80 ribu, kelas AA1 Rp 60 ribu, kelas AA2 Rp 40 ribu dan AA3 gratis,” jelas Catharina.
Dia menjamin, uang yang di­keluarkan itu sudah ter­masuk biaya gali dan tutup lu­bang.  (Per­soal­annya, kata Ca­tharina, terkadang ada orang luar yang bermain di dalam. Mereka mirip seperti calo yang bermain-main dengan proyek lokasi pe­nguburan.
“Tidak menutup kemungkinan orang dalam yang nakal. Dulu sudah disentil, tapi masih juga kucing-kucingan,” terangnya.
Karena itu, Catharina meng­imbau agar keluarga ahli waris yang datang mencari lokasi pe­nguburan harus menemui petu­gas resmi. Jangan bertemu orang luar yang malah akan menagih biaya hingga jutaan rupiah.
“Saya pernah mergokin orang seperti itu. Cukup sulit kalau kita tongkrongin terus. Begitu kita ting­gal, dia datang lagi,” katanya.
Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo mene­gaskan, biaya pema­ka­man bagi warga Jakarta tidak lebih dari Rp 100 ribu. Sedang­kan bagi ke­luarga miskin atau keluarga tak mampu, biaya pe­ma­kaman jenazah digratiskan.
“Biaya tersebut merupakan biaya retribusi lahan. Se­dang­kan untuk penggalian maupun pe­nutupan lubang tidak dike­nakan biaya sama sekali,” tegas Fauzi.
Share this post :
 
Support : Creating Website | Kang Lintas | Lintas Daerah
Copyright © 2011. Metro Post News - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Kang Lintas
Proudly powered by Lintas Daerah