Headlines News :
Home » » UGM Bentuk Tim Pencari Fakta

UGM Bentuk Tim Pencari Fakta

Written By Marmutilia on Selasa, 17 Juli 2012 | 11.30



YOGYAKARTA, MP - Rektor UGM Prof Dr Pratikno menegaskan tidak akan membiarkan kasus perjokian pada ujian Program Internasional di Fakultas Kedokteran (FK) UGM ini menguap.

Pasalnya, kasus tersebut menjadi temuan perjokian terbesar sepanjang sejarah UGM dengan modus yang tergolong baru. "Pasti ini dirancang oleh kelompok dengan terencana. UGM berkepentingan untuk mengungkap kasus ini bersama kepolisian. Maka kami bentuk tim pencari fakta (TPF)," katanya.

TPF yang diketuai Prof Iwan Dwi Prahasto, itu juga dibantu Direktur Administrasi Akademik Prof Dr Budi Prasetyo Widoyosubroto, Dekan FK dr Titi Savitri Prihatiningsih PhD, serta sejumlah ahli teknologi informasi dan satuan keamanan kampus.

Menurut Iwan, pihaknya akan mengeksplorasi sejumlah prosedur pendaftaran calon mahasiswa. Mulai dari panitia, dan proses yang bisa dijadikan peluang joki untuk masuk. "Apakah ada keterlibatan unsur dalam kampus, ataukah karena kelemahan sistem IT?. Dari sana nanti akan disusun rekomendasi, sebagai bahan-bahan yang dipertimbangkan untuk mencegah terjadinya kejadian serupa terulang," katanya seraya menargetkan kerja TPF akan selesai sebelum pengumuman ujian.

Menurut Titi, hubungan joki dan peserta ujian ini terjadi pada H-1 menjelang ujian. "Mereka dicegat dan ditawari, ikut perjokian," ujarnya.

Keterangan ini diperoleh dari salah seorang orang tua peserta yang mengatakan, anaknya pulang terlambat setelah mengecek lokasi ujian pada Kamis (12/7). Terkait peserta yang diketahui curang, dia menegaskan akan menggugurkan mereka.

Mereka juga tidak akan diperbolehkan mengikuti seleksi mahasiswa baru di UGM. "Tetapi kami tetap akan merahasiakan nama mereka. Ini terkait dengan masa depan mereka. Yang tidak kalah penting juga kami akan melakukan edukasi publik terutama pada orang tua. Tidak mungkin orang tua tidak tahu karena ada perjanjian membayar," jelasnya.

Cara kerja perjokian pada ujian FK UGM ternyata cukup unik. Selain menggunakan alat komunikasi hasil modifikasi, mereka juga punya sandi khusus untuk mengoperasikan.  

Direktur Administrasi Akademik Prof Dr Budi Prasetyo Widoyosubroto Budi menjelaskan ada dua macam alat komunikasi. Pertama, sejenis jam tangan yang terpasang LCD mini, yang terkoneksi dengan kabel dan receiver. "Jawaban dikirim lewat SMS," ujarnya Senin (16/7) saat memberi keterangan bersama sejumlah pejabat UGM di Ruang Sidang Pimpinan.

Kedua adalah jenis HP dengan modifikasi headset dan mikropon. Dengan mengaitkan HP tersebut pada BH atau talinya, dengan sedikit menoleh atau menunduk mereka bisa berkomunikasi dengan master joki yang memberi jawaban.

Terungkapnya perjokian massal itu bermula saat pengawas baru menemukan empat HP modifikasi dari peserta perempuan. Saat alat-alat komunikasi tersebut dikumpulkan di ruang pengawas, beberapa di antaranya masih aktif dan mengeluarkan instruksi semacam ini.

"Apakah Anda mendengar suara ini?Jika mendengar silahkan batuk satu kali." Pengawas yang memantau kemudian menuruti perintah itu. Dari HP tersebut kemudian keluar suara yang mengirimkan jawaban dari soal 1 hingga 10. Perintah serupa terjadi untuk pengerjaan soal-soal berikutnya.

Pengawas kemudian menindaklanjuti dengan menggeledah seluruh peserta dan total akhirnya menemukan 52 HP sejenis. Mengetahui ada penggeledahan banyak peserta yang menyembunyikan di celana dalam atau BH. "Tapi mereka tidak bisa menghindar karena kami punya petugas laki-laki dan perempuan, sehingga kami yakin ini tidak melanggar HAM. Sayang ada yang melarikan diri sebelum dibawa ke Polres, tapi identitas mereka sudah tercatat," imbuhnya.

Dengan cara kerja semacam itu, dalam analisis sementara Budi, dimungkinkan, salah satu orang yang menjadi bagian joki berada di dalam ruang ujian dan menjadi peserta. Peserta ini yang menjadi penghubung dengan joki lain di luar ruangan. Cara ini berbeda dengan joki konvensional, yang menggantikan peserta sebenarnya.

Budi juga mencurigai ini adalah kerja kelompok yang beraksi di luar kota. "Dua tahun lalu, ada juga temuan semacam ini di Semarang. Tetapi diduga gembongnya ini kelompok dari Jogja. Ada kemungkinan yang di UGM juga mereka," tuturnya.

Share this post :
 
Support : Creating Website | Kang Lintas | Lintas Daerah
Copyright © 2011. Metro Post - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Kang Lintas
Proudly powered by Lintas Daerah