Headlines News :
Home » , » Tambang Emas Liar di Pulau Buru Kerap Makan Korban

Tambang Emas Liar di Pulau Buru Kerap Makan Korban

Written By Metropost on Rabu, 08 Agustus 2012 | 18.16


MALUKU MP - Logam mulia alias emas adalah salah satu logam yang sangat di idam-idamkan orang banyak. Baik lempengan, batangan, ataupun serbuk, apalagi bila telah diolah menjadi perhiasan. Indonesia dikenal dengan negara kepulauan yang diperkaya dengan hasil tambang di beberapa wilayah, diantaranya adalah Papua. Yang mempunyai kwalitas emas terbaik di dunia, dan salah satu aset negara terbesar yang diolah oleh PT.FREEPORT asal amerika. Dan tentunya dapat merubah sistem perekonomian masyarakat Papua, serta meningkatkan pembangunan daerah Papua melalui APBD.
            Namun beda halnya dengan tambang emas yang terletak di desa Wangsit kec.Waeapu, pulau Buru, kab.Namlea, provinsi Maluku. Tambang emas ini ditemukan oleh warga setempat akhir tahun 2011 yang mengundang para penambang liar, baik dari masyarakat Maluku itu sendiri, sampai dengan mencuatnya para penambang dari luar kepulauan Maluku dengan berbagai suku di indonesia. Survei Metro post kegunung botak, yaitu wilayah tambang liar yang masih daerah pulau Buru Maluku. Sekarang ini para penambang kira-kira telah berjumlah 70ribu jiwa, baik itu pria, wanita, sampai anak-anak.
            Tambang emas yang seharusnya dapat menjadi salah satu sumber pendapatan daerah dan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat kab Namlea, yang memang berada dalam keterbelakangan disistem pembangunan daerah. Baik itu di kecamatan maupun diwilayah pedesaan. Justru menjadi tambang emas maut yang telah menelan korban puluhan jiwa, bahkan menurut para tokoh masyarakat yang kami jumpai [MP] sudah ratusan.
            Dimulai dari korban tanah longsor tertimbun bahan material, korban perampokan, sampai pembunuhan. Ditambah pula banyaknya penambang yang meninggal akibat berbagai macam penyakit, terutama diare yang diakibatkan wabah dari kotoran para penambang itu sendiri. Mereka tidak lagi mengedepankan kesehatan, tidak peduli dengan keadaan diri demi memburu logam mulia ini. Mereka tidak lagi terkontrol untuk merusak alam, membuat kubangan-kubangan raksasa yang dapat merenggut nyawa mereka sendiri. tidak lagi memikirkan efek dari kerusakan alam yang dapat menimbulkan bencana, akibat gundulnya perbukitan.
            Yang lebih parah lagi seringnya terjadi pembunuhan diantara penambang akibat kecemburuan pendapatan logam mulia alias emas, pemalakan di man-mana yang tentunya d i dominasi warga pribumi yang jika tidak di indahkan dapat memancing timbulnya pembunuhan. Seperti baru-baru ini, kamis (12/07)lalu terjadi perang suku, antara suku Waewa [warga pulau Buru] VS suku Ambalao [warga pulau Buru selatan] kab Namlea Maluku. Entah berapa lagi nyawa melayang?? ribuan....Suku pendatang yang tentunya adalah penambang liar, lari tunggang langgang selamatkan diri.
            Yang menjadi pertanyaan, dimana peran pihak keamanan? khususnya POLRI. Ataukah pihak keamanan nyaris tutup mata akibat diduga besarnya aset mereka,Yang sebagian besar turut ambil bagian dari kegiatan penambangan liar? Ataukah tidak adanya Pendapatan Asli Daerah[PAD] dari penambangan tersebut?
Yang jelasnya jika Bupati Ramly Umasugi,Spi.Mm serta wakilnya Ir.H.Juhana soedrajat, selaku Pemerintah Daerah tingkat II Namlea tidak ambil seganra megambil kebijakan. Bukan tidak mungkin wilayah tambang liar, mengundang terjadinya perang SARA [asdinremi]  
Share this post :
 
Support : Creating Website | Kang Lintas | Lintas Daerah
Copyright © 2011. Metro Post - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Kang Lintas
Proudly powered by Lintas Daerah