Headlines News :
Home » » TNI-Polri Bentrok

TNI-Polri Bentrok

Written By Metropost on Jumat, 08 Maret 2013 | 01.36

JAKARTA, MP - Politikus PDI Perjuangan yang juga Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Tubagus Hasanuddin mendesak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan elit TNI serta Polri untuk serius mengurusi bentrokan kedua institusi yang terjadi di Mapolres Ogan Komering Ulu (OKU).

"Kasus bentrokan di OKU antara TNI Angkatan Darat vs Polisi jangan hanya dianggap perkelahian biasa. Apalagi, lanjutnya, kalau sudah sampai menimbulkan jatuh korban manusia dan harta benda lainnya. Para pimpinan TNI dan Polri, termasuk Presiden SBY harus benar-benar serius," kata TB Hasanuddin, Kamis (07/03/2013).

Politikus PDI Perjuangan itu menegaskan, semua pihak dimaksud harus bisa menyusun langkah-langkah untuk mengembalikan TNI dan Polri ke fungsi sebenarnya sebagai aparat bersenjata yang dibiayai rakyat dengan tugas melindungi serta mengayomi rakyat.

Seharusnya, lanjut dia, yang terjadi bukan sebaliknya dimana justru membuat rakyat menjadi takut akibat perkelahian yang terjadi diantara mereka. "Saya harap segera diambil tindakan kepada semua komandan termasuk danyon, dandim, dan kapolresnya. Lalu segera pimpinan kedua belah pihak duduk mencari solusi dasar," kata Hasanuddin.

Ketua DPD PDIP Jawa Barat ini meminta untuk segera dibuat tim investigasi untuk mengusut mengapa masalah yang sudah satu bulan berlalu tidak diselesaikan dengan tuntas. Pada kesempatan ini, Hasanuddin yang merupakan bekas purnawirawan TNI bintang dua itu menjelaskan, bentrok TNI-Polri memiliki akar sejarah yang panjang.

 Dirinya mengkisahkan, sejak dari pemisahan TNI-Polri pasca reformasi 1998, masih tersimpan memori di kepala para personil bahwa TNI AD dianggap sebagai 'kakak terbesar', diikuti TNI AL, TNI AU, lalu Kepolisian sebagai si 'bungsu'. "Polisi itu adik yunior terkecil.

Apa-apa dulu solusinya selalu tentara yang maju. Secara psikologis ada kerinduan peran, menimbulkan kecemberuan sosial," jelas Hasanuddin. Kecemburuan itu makin meningkat apalagi belakangan Kepolisian mengakses seluruh sendi kehidupan dimana aparat Kepolisian ada di hampir seluruh pelosok negeri. 

Semakin parah lagi, lanjut TB Hasanuddin, karena belakangan akses ke masalah ekonomi yang juga mayoritas saat ini dikuasai oleh kelompok dari Kepolisian. "Jadi bagi saya ini sebenarnya konsekuensi Reformasi dan UU yang ada. Ini bagian dari kegagalan Reformasi itu karena tak mampu menangkap dampak psikologis semacam ini," tandas Hasanuddin.
Share this post :
 
Support : Creating Website | Kang Lintas | Lintas Daerah
Copyright © 2011. Metro Post - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Kang Lintas
Proudly powered by Lintas Daerah