Headlines News :
Home » , , , » Perajin Tempe-Tahu Jateng Stop Produksi

Perajin Tempe-Tahu Jateng Stop Produksi

Written By Metro Post News on Senin, 26 Agustus 2013 | 15.45

SEMARANG - Ribuan perajin tempe dan tahu di Jawa Tengah telah memutuskan untuk berhenti produksi, menyusul tingginya harga kedelai. Mereka pun siap menggelar aksi unjuk rasa dan mogok massal, sebagaimana instruksi Sekretaris Umum Gabungan Koperasi Produsen Tempe dan Tahu Indonesia (Gakoptindo), Suyanto.
Manajer Primkopti Demak, Wiwik Mulyanto menyebut sekitar 50 persen perajin tempe dan tahu di Demak telah berhenti produksi dan beralih ke profesi lain.
"Mekanisme pasar bebas membuat harga kedelai melambung tidak seperti saat dulu ketika masih ditangani oleh Bulog. Akibatnya banyak yang berhenti produksi. Saat ini ada sebanyak 140 perajin tempe dan tahu di Demak tapi hampir 50 persennya berhenti produksi," jelasnya, Minggu (25/8/2013).
Ketua Puskopti Jawa Tengah, Sutrisno Supriantoro mengatakan harga kedelai terus mengalamai kenaikan. Hingga Minggu kemarin, harga kedelai mencapai 8.600-8.700 per kilogram. Sutrisno mengatakan Puskopti Jawa Tengah sudah merapatkan untuk menyikapi kenaikan harga kedelai.
“Kami akan menggelar unjuk rasa, atau bisa juga ikut mogok produksi. Akan kami pantau terus kondisi harga kedelai," ujarnya.
Solusi menstabilkan harga kedelai, kata Sutrisno, berada di tangan pemerintah. "Pemerintah harus ambil sikap segera melakukan operasi pasar," ujarnya.
Sutrisno mengatakan saat ini tata niaga kedelai dipegang oleh importir sehingga pemerintah sulit mengendalikan harga kedelai.
"Pemerintah harus memberikan kesempatan Bulog untuk melakukan impor kedelai. Juga pemerintah harus segera menurunkan bea masuk kedelai, bahkan kalau bisa mengnolkan bea masuk," ujarnya.
Kenaikan harga kedelai, kata Sutrisno, sudah berdampak pada berhentinya produksi pengrajin tempe-tahu. "Anggota kami sebanyak 9.800 anggota. Sekitar 20 persen (1.960) anggota kami sudah gulung tikar, berhenti berproduksi," ujarnya.
Meskipun Primkopti Jawa Tengah belum memutuskan kapan mogok massal, sejumlah perajin tempe-tahu di Karanganyar, Demak sudah ada yang mogok produksi.
Seperti yang dilakukan oleh Hj Sumarni (64). Perajin tahu di Desa Karanganyar RT 6 Rw 1 tersebut mulai Minggu sore melakukan mogok produksi. Rencananya aksi tersebut akan berlangsung hingga Senin. "Kalau saya produksi terus malah makin rugi. Lha kedelai saja Rp 8.800 per kg, kami rugi biaya produksinya," jelasnya.
Menurut Sumarni, kenaikan harga kedelai yang sekarang jauh lebih tinggi dibanding sebelumnya dan kemungkinan harga tersebut masih bisa naik hingga kisaran Rp 9.000.
Perajin tahu asal Kalirejo, Ungaran Timur, Kabupaten Semarang, Nurul (40) tetap akan berproduksi meski harga kedelai melonjak tinggi. "Kalau mogok produksi malah tambah merugi. Mending saya tetap produksi meski harus menurunkan kapasitas produksi," ujarnya.
Nurul bersiasat dengan menaikkan harga tahu ketimbang harus mengurangi ukuran tahu. "Ya mau ngga mau harus menaikkan harga. Nggak mungkin memperkecil ukuran tahu yang sudah kecil," ujarnya.
Tingginya harga kedelai membuat Ngatiyem, perajin tempe di Pandean Lamper, Gayamsari, Kota Semarang mengecilkan ukuran tempe. “Kami tidak menaikkan harga jual tempe. Kasihan konsumen jika harga harus naik. Terpaksa kami mengurangi ukuran tempe agar tidak merugi,” katanya.
Ketua Primkopti Kodya Tegal, Maskuri menjelaskan, harga kedelai terus meningkat. "Kalau SBY tidak segera memberi keputusan, kami akan demo besar-besaran dan mogok nasional," ungkapnya. Menurutnya, pada Minggu, harga kedelai di Tegal mencapai Rp 8.800 per kg.
Sementara itu Menteri Perdagangan Gita Wirjawan menyesalkan keputusan Puskopti yang akan demo dan mogok massal. "Kalau bisa jangan sampai demo," ujarnya saat melakukan kunjungan kerja di pabrik teh di Kabupaten Tegal, Minggu.
Gita menjelaskan, saat ini tengah diupayakan untuk impor kedelai. Pasalnya, kebutuhan kedelai di Indonesia sebanyak 2,5 juta ton, sementara suplai kedelai lokal hanya 800.000 ton.
Selain itu, akan diupayakan harga pokok kedelai. “Saya yakin harga kedelai kembali stabil,” katanya (trJATENG)
Share this post :
 
Support : Creating Website | Kang Lintas | Lintas Daerah
Copyright © 2011. Metro Post News - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Kang Lintas
Proudly powered by Lintas Daerah