Headlines News :
Home » , » Tak Ada Hujan, Produksi Kopi Jatim Turun 50%

Tak Ada Hujan, Produksi Kopi Jatim Turun 50%

Written By Metro Post News on Kamis, 26 September 2013 | 12.40

Surabaya- Produksi kopi di Jawa Timur tahun ini menurun hingga 50% karena perubahan iklim yang melanda beberapa daerah penghasil kopi.
Dalam kondisi normal, produksi kopi bisa mencapai 80-100 ton per hektare (ha), tetapi tahun ini produksinya hanya di kisaran 40-60 ton per ha.
Sekretaris Jenderal Asosiasi Petani Kopi Jawa Timur, Yusriadi, mengatakan perubahan iklim saat ini telah mengakibatkan proses pembuahan tidak sempurna karena bunga terlanjur rontok. "Ini lantaran tidak adanya hujan selama proses pembuahan tersebut," katanya di Surabaya, Rabu (25/9).
Lebih lanjut dia menjelaskan, saat terjadi proses pembuahan tanaman kopi membutuhkan guyuran hujan. Mengingat dalam beberapa bulan terakhir tidak ada hujan, hal itu berpengaruh pada produksi kopi tahun ini.
Menurut Yusriadi, daerah penghasil kopi di Jatim yang mengalami penurunan produksi di antaranya Bondowoso, Jember, dan Banyuwangi. Potensi kopi asal Bondowoso sendiri cukup besar yakni lebih dari 19.000 ha lahan. Lahan ini dikelola oleh 30 kelompok yang masing-masing kelompok terdiri dari 25 orang.
Hasil produksi kopi robusta di Bondowoso lebih besar karena mayoritas lahan petani berada di ketinggian antara 600-1.000 meter di atas permukaan laut (mdpl), berada di lereng Gunung Raung. Sementara untuk jenis kopi Arabika berada di atas lahan dengan ketinggian sekitar 1.200 mdpl, yang berada di kawasan Gunung Ijen.
Meski terjadi penurunan produksi, petani kini masih masih bisa bernafas lega karena harga jual kopi dari petani yang dipatok PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XII lebih tinggi dibandingkan mitra atau eksportir di Surabaya.
PTPN membeli kopi petani seharga Rp18.000 per kg. Sementara harga beli yang ditawarkan oleh mitra hanya berkisar Rp12.000 per kg untuk biji kopi HS. Lebih rendahnya harga kopi yang ditawarkan oleh para eksportir tak lepas dari patokan harga kopi dunia yang saat ini menurun seiring dengan krisis global.
"Selain kePTPN XII, petani juga menjual sendiri hasil panen kopinya ke pasar umum terutama ke kafe-kafe di Jakarta, Surabaya, dan Malang," imbuh Yusriadi.
Kepala Dinas Perkebunan Jatim, Moch Samsul Arifien mengatakan, tahun ini produksi kopi di Jatim ditargetkan meningkat dari tahun lalu 56.000 ton menjadi 58.000 ton. "Kopi dari Jatim memiliki kualitas yang bagus dan cukup terkenal. Hal ini yang menyebabkan banyak kopi dari luar Jatim, namun pengiriman ekspor kopi dilakukan bersama dengan kopi asal Jatim," katanya.
Namun dia menyayangkan ekspor kopi asal Jatim masih banyak dilakukan dalam bentuk biji. Data Dinas Perkebunan Jatim, total ekspor kopi Jatim pada 2012 lalu mencapai 80.000 ton. Dari jumlah itu, 95% kopi yang diekspor masih dalam bentuk biji kopi dan 5% sisanya dalam bentuk kopi olahan.
“Ekspor kopi dalam bentuk biji atau belum jadi masih sangat disayangkan, karena harganya tidak terlalu mahal. Jika dapat diekspor dalam bentuk kopi olahan, maka dapat mendongkrak harga jualnya,” katanya.
Share this post :
 
Support : Creating Website | Kang Lintas | Lintas Daerah
Copyright © 2011. Metro Post News - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Kang Lintas
Proudly powered by Lintas Daerah