Headlines News :
Home » » Jalan-Jalan Ke Dago Pakar

Jalan-Jalan Ke Dago Pakar

Written By Metro Post News on Jumat, 18 Oktober 2013 | 12.47

Lebih cocok disebut hutan kota karena letaknya dekat sekali dengan keramaian kota Bandung. Dari Jakarta lebih pas bila keluar dari Tol Pasteur dan exit pertama jalan layang segera turun dan belok kiri jalan Dago. Bisa berbahasa Sunda jadi point tambahan. Enam orang (4 anak) dalam mobil dihitung hanya berempat saja katanya dan saat itu kami membayar Rp 52.000. Sangat khas tempat Wisata di negeri kita yak?! Jalan-jalan ke taman hutan kota terbesar ini adalah pilihan lain dari pilihan menikmati kuliner dan belanja di outlet. Anak-anak dapat menikmati sejuknya udara dan mengaggumi pohon-pohon besar yang sudah ditempeli nama dan asal pohon tersebut. Selain besar, pohon-ponon ini membuka wawasan anak-anak untuk dapat menyadari pentingnya tumbuhan terhadap penunjang kehidupannya. Ditengah perkembangan tehnology layar sentuh maka ‘menyentuh’ alam adalah bagian penting membina kesadaran sejak kecil bahwa mereka sangat bergantung pada kelestarian alam. Pakailah pakaian yang nyaman dan alas kaki yang memang digunakan untuk jalan-jalan bukan untuk mejeng. Jalan setapak akan memanjakkan perjalanan ke dalam kawasan hutan. Selain keindahan Hutan dan pemandangan alam yang waw, kita dapat juga menikmati Goa Jepang dan Goa Belanda. Memasuki ruang goa, kita dapat membayangkan bagaimana kehidupan para tentara dahulu di dalam Goa untuk berlindung, pemantauan, logistik dan gerilya tentunya. Sepeda motor ojek tidak tertata baik dan mereka bisa parkir dimana saja yang mereka suka. Tentu sangat menganggu apalagi dalam proses pengambilan gambar. Goa Belanda lebih ‘besar dan moderen’ dibanding Goa Jepang. Pemerintah sempat memasang alat penerangan di dalam Goa tapi rusak dan tidak dapat dipakai lagi. Tinggal bekas-bekasnya saja yang dapat membuktikan bahwa pemerintah daerah sempat berupaya memperhatikan aset di dalam kawasan hutan ini. Di dalam Goa Belanda kita akan merasakan seolah berada dalam ruangan ber AC. Sejuk dan tersirkulasi baik. Sayang banyak pengunjung yang melanggar aturan dengan merokok di dalam Goa. Sejarah kedua Goa ini sangat menarik tetapi sebaiknya datang langsung sehingga lebih pas melihat sambil mendengar dari pemandunya yang bertarif 25.000. Dan karena gelap, maka penjaja jasa Senter sudah siap dengan harga 5000 per lampu senter. Tidak ada salahnya membawa senter dari rumah apalagi bersama dengan anak-anak . Mereka sangat exciting memegang senter di dalam Goa. Dari hutan ini kita bisa menguji stamina dengan berjalan sampai di air terjun Maribaya Lembang. Sekitar 7 km menurut pemandunya. Ojek menjadi alternative jika tidak kuat. Niat untuk naik ojek karena bersama anak-anak menjadi batal karena ada ojek yang kembali lagi setelah di jalan terhalang oleh beberapa ekor lutung yang menyerang. Memang sambil istirahat di depan Goa, kami sempat melihat seekor monyet yang sedang bermain di pohon. Hutan yang asri sangat menunjang kehidupan hewan di dalamnya. Sama seperti tempat wisata lainnya, kita melihat pemerintah kelihatan serius tapi dalam pelaksanaan pasti terbentur budaya dan mental ‘birokrat’ khas negeri ini yang tidak serius serta cenderung membiarkan berjalan apa adanya sehingga tempat yang bagus terkesan tidak terawat dan tertata baik. Bandingkan jika dikelola swasta, memang lebih mahal tapi kebersihan dan keteraturan di dalam termasuk fasilitas umum seperti Toilet pasti bersih.
Share this post :
 
Support : Creating Website | Kang Lintas | Lintas Daerah
Copyright © 2011. Metro Post - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Kang Lintas
Proudly powered by Lintas Daerah