Headlines News :
Home » , , » Tolak gusuran, Halte Busway Jadi Korban

Tolak gusuran, Halte Busway Jadi Korban

Written By Metro Post News on Rabu, 09 Oktober 2013 | 10.43

Jakarta - Eksekusi puluhan bangunan yang berdiri di atas lahan seluas sekitar satu hektare di Buaran I RT 08/12, Kelurahan Klender, Kecamatan Duren Sawit, Jakarta Timur, pada Rabu (9/10) pagi diwarnai bentrokan. Sekitar 2.100 petugas gabungan dari Satpol PP, Kepolisian, TNI, Sudin Kebersihan dan lainnya yang diterjunkan mengeksekusi lahan mendapat penolakan warga yang memblokir Jalan I Gusti Ngurah Rai dengan membakar ban bekas di tiga titik sejak sekitar pukul 03.30 WIB. Tak hanya itu, warga juga sempat membakar Shelter Bus Transjakarta Buaran. Akibatnya, lalu lintas di Jalan I Gusti Ngurah Rai lumpuh total dan Bus Transjakarta Koridor XI jurusan Pulogebang-Kampung Melayu berhenti beroperasi. Suasana sempat berangsur kondusif, setelah massa dibubarkan anggota kepolisian dengan menggunakan gas air mata. Lima unit beco yang diterjunkan kemudian mulai membongkar bangunan-bangunan warga sekitar pukul 06.00 WIB. Sebagian warga mengaku kaget karena tak mengetahui akan adanya eksekusi. Warga hanya mengetahui rencana tersebut berdasar informasi dari mulut ke mulut. "Kami nggak dikasih tahu, kenapa langsung mendadak, cuma tahu dari kabar akan digusur," kata salah seorang warga bernama Maimunah (60). Maimunah berharap masih diizinkan untuk tinggal di bangunan yang sudah ditempati sejak 27 tahun lalu. Jika tidak, dia berharap mendapat tempat tinggal baru yang lebih layak. "Harapannya dapat tempat tinggal, kalau bisa bertahan," katanya. Ekskusi ini merupakan lanjutan dari eksekusi yang sempat tertunda pada Mei lalu. Upaya dialog antara PT Graha Citra Karisma (GCK) yang mengklaim pemilik lahan dengan warga yang difasilitasi Pemprov DKI dilakukan beberapa kali. Dari 421 bangunan yang sebelumnya berdiri di atas lahan 9,5 hektare, terdapat 87 bangunan di atas lahan satu hektare yang masih bertahan. Sementara sisanya, sudah membongkar sendiri bangunan mereka setelah menerima uang kerahiman senilai Rp 10 juta hingga Rp 120 juta yang diberikan PT GCK. "Tersisa sekitar 87 bangunan yang bertahan yang lain sudah ambil uang kerahiman dan sudah membongkar sendiri bangunan mereka. Warga menolak dengan alasan sudah lama menetap di sini," kata Kabid Operasi dan Penegakan Hukum Satpol PP Pemrov DKI Jakarta, Surbakti, saat ditemui di lokasi, Rabu (9/10). Surbakti menjelaskan eksekusi lahan dilakukan pada pagi hari untuk mengantisipasi kemacetan yang mungkin terjadi mengingat Jalan I Gusti Ngurah Rai merupakan salah satu akses utama warga Bekasi ke Jakarta. "Kami mementingkan kepentingan publik," katanya. Meskipun eksekusi ini atas permintaan PT GCK yang mengklaim sebagai pemilik lahan, namun pihaknya hanya mengeksekusi bangunan tanpa Izin Mendirikan Bangunan (IMB) yang berdiri di lahan tersebut. "PT GCK mengajukan permohonan, tapi eksekusi ini sudah kami kaji terlebih dahulu. Kami juga berkoordinasi dengan pihak BPN dan kelurahan. Berdasar data yang ada seperti dari kelurahan dan risalah BPN lahan ini milik seorang bernama Kusuma Wijaya bin Sumitro yang dialihkan ke GCK," kataya. Kapolres Jakarta Timur, Kombes Pol Mulyadi Kaharni mengatakan, 750 personil kepolisian yang dikerahkan bertugas agar eksekusi berjalan lancar. Namun, pihaknya terpaksa melepas gas air mata lantaran warga terus berupaya melawan petugas. Upaya persuasif yang dilakukan untuk meredam ketegangan dibalas dengan lemparan batu. "Dialog dan mediasi juga sudah dilakukan. Dari Pemprov DKI juga sudah melakukan pendekatan. Sebagian mau menerima uang kerohiman, tapi sebagian lainnya menuntut dan meminta lahan seluas tiga hektar. Itu tidak mungkin karena ini bukan tanah milik Pemprov," katanya. Terkait pemblokiran jalan dan pembakaran shelter bus Transjakarta, Mulyadi mengatakan belum ada warga yang diamankan. Namun, petugas di lapangan sudah mengidentifikasi dua orang yang diduga provokator. "Sudah kami identifikasi tinggal menunggu situasi yang lebih kondusif," katanya. Setelah situasi berangsur kondusif, petugas mulai mengeksekusi sekitar 87 bangunan tanpa Izin Mendirikan Bangunan (IMB) tersebut. Namun, eksekusi terhenti sekitar pukul 08.30 WIB, saat api terlihat mulai membakar sebuah bangunan di lahan yang akan dieksekusi. Api terus membesar dan membakar bangunan lain di sekitarnya yang sebagian besar merupakan bangunan semi permanen dan menyimpan berbagai barang mudah terbakar, seperti kayu, dan papan. Diduga kebakaran sengaja dilakukan warga untuk menghentikan eksekusi. "Bangunan ini sengaja dibakar oleh warga, tadi ada yang membawa derigen dan menyiramkan bensin ke salah satu rumah, tiba-tiba api pun langsung muncul," kata Jimin, salah seorang petugas Satpol PP.
Share this post :
 
Support : Creating Website | Kang Lintas | Lintas Daerah
Copyright © 2011. Metro Post - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Kang Lintas
Proudly powered by Lintas Daerah