Headlines News :
Home » , , » Basuki: Dijadikan Ibu Kota ASEAN, Transportasi Publik di Jakarta Tak Boleh Berantakan

Basuki: Dijadikan Ibu Kota ASEAN, Transportasi Publik di Jakarta Tak Boleh Berantakan

Written By Metro Post News on Kamis, 26 Juni 2014 | 20.13

Jakarta - Memasuki komunitas masyarakat Asia Tenggara (ASEAN), Kota Jakarta rencananya akan dijadikan sebagai Ibu Kota negara-negara di ASEAN. Demi tujuan tersebut, Jakarta harus bekerja keras menata dirinya, terutama menata transportasi publik, supaya terintegrasi dan tidak berantakan.
Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) menegaskan, pembangunan infrastruktur di bidang transportasi publik di Kota Jakarta tidak boleh tertinggal dari negara-negara lain.
Jakarta harus mampu mengejar ketertinggalannya dalam penataan transportasi publik, sehingga saat diterapkan pasar perdagangn bebas dan komunitas masyarakat Asia Tenggara pada tahun 2015, Ibu Kota Negara Indonesia ini sudah siap.
“Tahun depan kita sudah menjadi masyarakat ekonomi Asia Tenggara, dan Jakarta sudah diputuskan sebagai Ibu Kota dari negara-negara ASEAN. Kalau transportasi kita seperti ini, berantakan, nggak ada orang yang mau datang. Dan perekonomian akan makin ambruk,” kata Ahok saat menjadi Keynote Speaker dalam Seminar "Mencari Model Pembangunan Infrastruktur Transportasi Publik Kota Jakarta" di Hotel Pullman, Jakarta Pusat, Kamis (26/6).
Ditegaskannya, bila transportasi publik tidak ditata dengan rapi dan saling terintegrasi satu sama lain, maka dalam 10 tahun ke depan, Jakarta akan mendapat bencana bonus demografi pada tahun 2025.
“Kalau dalam 10 tahun ke depan, Jakarta yang menjadi front terdepan dari pertempuran AFTA mempunyai infrastruktur transportasi yang tidak beres, maka kita akan menghasilkan bencana bonus demografi tahun 2025. Sehingga tahun 2045, jangan mimpi ada Indonesia emas, yang ada tidak ada lagi nama Indonesia,” ujarnya.
Untuk mencegah terjadinya bencana demografi, lanjutnya, Pemprov DKI Jakarta dan pusat harus menata infrastuktur transportasi publik di Ibu Kota. Beberapa yang harus dibenahi adalah transportasi berbasis rel, seperti light rapid transit (LRT), mass rapid transit (MRT) dan kereta rel listrik (KRL).
Semua transportasi berbasis rel ini harus terintegrasi dengan transportasi publik berbasis bus rapid transit (BRT) yang sudah berjalan, yaitu bus Transjakarta.
Direktur Jenderal Kekayaan Negara Kementerian Keuangan, Hadiyanto mengatakan kesempatan yang dimiliki oleh Kota Jakarta untuk membangun infrastruktur transportasinya sangat besar. Sayangnya, saat ini masih ada kesenjangan antara pembiayaan pemerintah dengan pihak penyedia infrastruktur.
“Kesenjangan itu harus diisi oleh pihak swasta sebagai pihak penyedia infrastruktur, sehingga pembangunan infrastruktur dapat berjalan dengan cepat dan tidak tertinggal. Selain itu, kita juga mengharapkan pembangunan infrastruktur transportasi di Jakarta dapat dijadikan model bagi daerah-daerah lain," jelasnya.
Share this post :
 
Support : Creating Website | Kang Lintas | Lintas Daerah
Copyright © 2011. Metro Post - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Kang Lintas
Proudly powered by Lintas Daerah