Headlines News :
Home » , » Pelanggaran Di Pabrik PT.BMS Diungkap Oleh Seorang Mantan Suplayernya

Pelanggaran Di Pabrik PT.BMS Diungkap Oleh Seorang Mantan Suplayernya

Written By Jainal Fatmi on Sabtu, 07 Juni 2014 | 12.56

LUWU TIMUR, MP - Terungkapnya hal ini setelah koperasi CV. Karatuan putus hubungan kerja dengan PT.bumi maju sawit (PT.BMS) di mantadulu. Perlu diketahui bahwa Perusahaan PT. Bumi Maju Sawit (BMS) adalah salah satu perusahaan yang bergerak dibidang pengolahan buah TBS (Tandan buah segar) kelapa sawit di Mantadulu- luwu timur. Tepatnya di Desa Mantadulu Kec. Angkona Kab. Luwu Timur.

Keberadaan pabrik ini tidak lepas dari berbagai mitra usaha, salah satu mitra kerja yang paling dekat yaitu suplayer buah TBS. Dalam hal ini CV. Karatuan adalah salah satu koperasi yang berhubungan langsung dengan beberapa kelompok tani sawit untuk disuplay buahnya ke pabrik PT. BMS melalui badan koperasi perusahaan.

Menurut pengakuan I wyn Tantra kemungkinan hal ini ada kaitannya dengan politik pada pemilu legislative 09 april 2014 yang lalu, dia menuturkan bahwa sempat diundang makan oleh Manager PT. BMS (akmal red.) disebuah Rumah makan di mangkutana, pada saat itu Akmal mengungkapkan kalau koperasi CV. Karatuan tidak bisa dipake lagi sebagai suplayer TBS karena sudah ada koperasinya sendiri yang menjadi suplayer TBS di PT. BMS. Dan dia mengatakan kepada saya (tantra red.) bahwa akan memutuskan hubungan kerja koperasi saya dengan PT. BMS Yang selama ini menjadi Mitra kerjanya.

 Manager PT.BMS melakukan pemutusan sepihak tanpa alasan yang jelas, tapi bagi saya itu tidak jadi masalah yang penting dikelola secara jujur dan tidak ada kebohongan kepada petani. Karena selama ini buah TBS yang saya masukkan di pabrik tersebut tidak pernah kurang dari seribu (1000 ton/bulan), bahkan pada bulan april saya masukkan buah TBS sebanyak 1500 ton. Cuma ada satu kejanggalan yang saya lihat diperusahaan tersebut yaitu mengenai pembayaran subsidi kepada petani, tertulis di dalam Nota pembayaran subsidi yang kami terima laporannya Rp 100/kg, tapi uang yang kami terima hanya Rp 95/kg nya tanpa ada kejelasan, dan yang Rp 5 nya ini dikemanakan terang I wyn Tantra. Sedangkan buah yang masuk ke PT. BMS tidak pernah kurang dari 1 juta kg/bln dikali 5 rupiah, bisa dibayangkan hasilnya. Keberadaan uang yang 5 Rupiah ini tidak jelas terkesan di tutup-tutupi, dan Ini baru sebahagian kecil penggelapan uang yang tidak jelas di PT. BMS.

Belum lagi persoalan kerusakan jalan yang dilewati oleh pengangkut buah ke pabrik yang selama ini tidak ada bentuk kepedulian perusahaan kepada masyarakat yang tinggal di sekitar, adakah dana komoditynya kepada masyarakat yang sehari-hari nya merasakan dampaknya selama beroperasi. karena pabrik tidak memiliki akses jalan khusus sehingga menggunakan jalan poros umum yang dibangun oleh pemerintah untuk masyarakat yang tinggal di Desa Taripa dan Mantadulu. Perlu juga dipertanyakan mengenai analisis dampak lingkungan yang ditimbulkan perusahaan tersebut, karena kalau kita naik ke pabrik limbahnya yang berupa minyak sawit itu ada yang masuk kedalam sungai yang mengalir disana.

 Namun yang paling penting masyarakat harus hati-hati bekerja sama dengan pabrik kelapa sawit PT. BMS yang penuh dengan kecurangan dan kongkalikong, dan masih banyak lagi kejanggalan yang melanggar etika berbisnis lainnya yang dapat merugikan Petani Sawit, mulai dari timbangan TBS sampai sortiran buah semuanya perlu diteliti oleh masyarakat yang terlanjur bekerja sama karena terpaksa dengan perusahaan tersebut agar tidak ada lagi petani yang dibodoh-bodohi oleh perusahaan tersebut, karena kalau terus menerus dibodohi masyarakat petani akan banyak mengalami kerugian, cukup saya yang jadi korban terang I wyn Tantra saat dikonfirmasi.(ASRIL )
Share this post :
 
Support : Creating Website | Kang Lintas | Lintas Daerah
Copyright © 2011. Metro Post News - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Kang Lintas
Proudly powered by Lintas Daerah