Headlines News :
Home » , , » Demi Uang Pengganti Yang lebih Besar, Warga Waduk Marunda Renovasi Rumah

Demi Uang Pengganti Yang lebih Besar, Warga Waduk Marunda Renovasi Rumah

Written By Metro Post News on Selasa, 30 September 2014 | 10.26

Jakarta - Proses pengukuran Tim Panitia Pengadaan Tanah (P2T) Jakarta Utara pada lahan yang terkena pembebasan untuk pembangunan Waduk Marunda tidak disia-siakan oleh warga RW02 Kelurahan Marunda, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara.
Warga sekitar yang miliki tanah di lokasi Waduk Marunda tersebut dengan giat langsung merenovasi, membangun, atau menambah luas rumah yang mereka miliki saat ini.
Jailani (42) misalnya, mengakui memang membangun sejumlah lahan miliknya yang berupa empang dengan membuat bangunan darurat semacam bedeng (gubuk).
“Soalnya dua minggu yang lalu dilakukan pengukuran, makanya sebulan sebelumnya saya sudah rencanakan buat bangunan bedeng ini supaya dapet lebih tinggi uang pergantiannya dibanding hanya empang saja,” ujar Jailani, Senin (29/9) sore.
Menurut Jailani dengan luas lahan empang yang hanya selitar 80 meter persegi, maka uang pengganti lahan tidak akan terlalu besar.
“Makanya saya modal sedikitlah bikin bedeng dari rajutan bambu yang sudah usang, supaya dapat lebihan,” kata Jailani.
Jailani mengungkapkan, gubug tersebut tidak untuk ditinggali, karena hanya membuat bangunan dari tampak luarnya saja, sedangkan pada bagian dalamnya sama sekali tidak ada yang dibangun dan masih berupa kolam empang.
“Ya kalau saya tinggalnya di rumah saya yang satu lagi yang permanen, kalau yang itu kan memang tidak masuk cakupan yang kena penggantian waduk Marunda,” tandas Jailani.
Beda halnya dengan Pipit (70), nenek ini tinggal di sebuah rumah yang letaknya berada di tengah-tengah lokasi yang direncanakan akan dibuat waduk tersebut.
“Saya disini tinggal sama anak saya dan cucu, sebenarnya ada rumah di Sungai Tiram, tapi kata anak saya mendingan tinggal disini supaya saat diukur bisa meyakinkan tim pengukurnya,” jelas Pipit.
Menurut Pipit, rumah yang ditinggali saat ini seringkali rusak tertiup angin karena posisi rumahnya yang berada dibagian tengah empang.
“Makanya baru-baru ini saya renovasi, terutama bagian dinding yang hanya terbuat dari triplek, sama bambu-bambu pondasi juga saya ganti dengan yang lebih kuat, supaya rumah ini jangan sampai tiba-tiba ambles karena pergesaran di kolam empangnya,” ujar Pipit. Menurut Pipit tidak hanya dirinya saja yang melakukan perbaikan saat sebelum pengukuran.
Sementara itu, Rumadi (59) anggota keamanan pos RW 02 membenarkan warga sekitar pembuatan waduk memang membangun bangunan baru atau merenovasi kondisi rumah mereka yang ditinggali saat ini.
“Namanya juga ada kesempatan, ya pasti mereka gunakanlah waktu itu untuk merenovasi atau membangun bedeng ala kadarnya,” ujar Rumadi.
Rumadi mengaku sebagai keamanan RW tidak bisa berbuat apa-apa melihat aksi warga terebut meskipun Ia mengetahui pembangunan apapun saat pengukuran tidak diperbolehkan.
Menanggapi situasi tersebut, Sekretaris Walikota Jakarta Utara dan sekaligus merangkap sebagai Ketua Tim Panitia Pengadaan Tanah (P2T) Jakarta Utara Junaidi mengatakan bahwa warga sekitar lokasi pembuatan waduk seharusnya tidak boleh membangun ataupun merenovasi bangunan mereka.
“Tanah itu kan sebenarnya dimiliki atas nama seseorang saja, sedangkan mereka ini hanya sebagai penggarap, jadi tidak etislah membangun, menambah luas, atau merenovasi bangunan saat akan dilakukan proses pengukuran,” ujar Junaidi.
Proses pergantian lahan dan bangunan di waduk Marunda nantinya akan mengikuti ketentuan Dinas Perumahan DKI Jakarta yang memiliki aturan baru terkait penambahan nilai bangunan dan penyusutan nilai bangunan.
“Jadi bagi warga yang akal-akalan membangun ala kadarnya tentu akan dinilai dari aturan tersebut, misalnya saja bagi warga yang membuat bangunan diatas empang, tapi hanya luarnya saja dan bagian dalamnya berupa empang, maka bangunan itu kita kategorikan sebagai pagarnya saja dan tidak termasuk bangunan darurat atau semi-permanen,” jelas Junaidi.
Menurut Junaidi proses pengukuran akan segera selesai dalam waktu satu minggu ini. “Awal Oktober nantilah kita akan umumkan hasil pengukuran di kantor kelurahan, jadi warga bisa melihat hasil pengukuran tanah dan bangunan mereka,” tandas Junaidi.
Share this post :
 
Support : Creating Website | Kang Lintas | Lintas Daerah
Copyright © 2011. Metro Post News - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Kang Lintas
Proudly powered by Lintas Daerah