Headlines News :
Home » , , » 167 Bangunan Liar di Kolong Tol Pejagalan Dibongkar Petugas

167 Bangunan Liar di Kolong Tol Pejagalan Dibongkar Petugas

Written By Metro Post News on Selasa, 23 Desember 2014 | 10.58

Jakarta - Sebanyak 167 bangunan liar yang didirikan di atas saluran air sepanjang Jalan Muara Karang Pergudangan, RW16, Kelurahan Pejagalan, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara dibongkar oleh 175 petugas gabungan satuan polisi pamong praja (Satpol PP), petugas Suku Dinas Kebersihan Jakarta Utara, Kepolisian, dan TNI pada Senin (22/12).

Lurah Pejagalan, Alamsyah, mengatakan, permukiman liar sepanjang satu kilometer yang berada di samping tol Prof. Dr. Sedyatmo (tol menuju bandara Soekarno Hatta) dan berada di belakang Pos Polisi Jembatan Tiga tersebut selama ini kerap menyebabkan banjir pada musim penghujan dengan ketinggian 100 hingga 150 centimeter. “Tujuan pembongkaran permukiman ini untuk refungsi dan pelebaran saluran air yang selama ini tidak berfungsi karena ditutupi bangunan warga yang sebagian besar membuka usaha barang bekas dan besi rongsokan.

Selain itu tindakan ini sebagai wujud pelaksanakan Perda 8/2007 tentang Ketertiban Umum dan tidak ada ganti rugi ataupun relokasi bagi warga,” ujar Alamsyah, Senin (22/12) siang. Menurut Alamsyah, seharusnya saluran air mikro di lokasi tersebut menghubung ke saluran air makro Kali Karang dengan lebar bervariasi antara tiga hingga enam meter, namun keberadaan bangunan liar membuat saluran air hanya memiliki lebar 1,2 meter dan itupun dipenuhi sampah.

“Kalau dipenuhi sampah seperti ini jelas saluran tidak akan berfungsi menyalurkan genangan air dari jembatan tiga ke kali karang saat puncak musim penghujan nanti,” kata Alamsyah. Alamsyah menjelaskan, dalam proses pembongkaran tersebut sebanyak 167 bangunan dan 341 Kepala Keluarga (KK) kehilangan bangunan liarnya dan harus pindah dari lokasi tersebut. “Kami sudah memberikan surat peringatan kepada warga sejak 12 Desember lalu, dan warga sudah diberikan waktu untuk memindahkan barang-barang berharga mereka,” lanjut Alamsyah.

Untuk mencegah warga kembali menempati lokasi yang sudah dibongkar, Alamsyah mengaku akan berkoordinasi dengan Kecamatan Penjaringan untuk rutin memonitor agar lokasi tersebut steril dari bangunan liar warga. “Kami harapkan apabila pembongkaran sudah selesai, Sudin Pu Tata Air dapat langsung masuk dan mengerjakan pelebaran saluran air yang ada sehingga bila terjadi genangan banjir dapat langsung segera surut karena saluran air sudah diperlebar,” kata Alamsyah. Sementara itu, Ucu (35), salah satu warga yang bangunannya dibongkar mengaku bingung harus pindah ke mana setelah bangunan dengan ukuran 2x8 meter persegi yang sehari-hari dijadikan usaha barang bekasnya dibongkar petugas.

 “Padahal saya belum lunas meminjam uang ke bank sebesar Rp 20 juta untuk menempati bangunan tersebut dan modal membuka usaha barang bekas, sekarang ludes tak tersisa,” ujar Ucu. Ucu yang sehari-hari hidup sendiri mengaku sudah pergi ke Jakarta sejak tahun 2013 karena tuntutan ekonomi dan untuk menyekolahkan anaknya yang saat ini bersekolah di Tasikmalaya, kampung halamannya dan suaminya. “Suaminya kerja jadi buruh kasar di Kalimantan, dan itupun kalau kirim uang sering tidak cukup, makanya saya memutuskan datang ke Jakarta untuk mendapatkan tambahan rejeki,” kata Ucu.

Beda halnya dengan Ambar (49), warga yang tinggal di bawah kolong tol Prof. Dr. Sedyatmo tersebut hingga hari ini rumahnya belum dibongkar. Ambar yang sudah tinggal di lokasi tersebut selama lima tahun mengaku berasal dari Tegal dan tinggal bersama dengan suami dan dua orang anaknya. “Saya juga takut nanti pasti bangunan kami bakal dibongkar, namun mau bagaimana lagi sekarang cari tempat tinggal di Jakarta itu susah, kalau tidak tinggal di tempat seperti ini kami tidak mampu,” ujar Ambar.

 Ambar sehari-hari menggantungkan nafkah dari suaminya yang bekerja serabutan terkadang sebagai kuli panggul terkadang menarik ojek. “Cukuplah buat makan dan menambah biaya sekolah anak, lagian selama di sini kami enggak bayar uang sewa, dan listrik cuma bayar Rp 50.000 patungan sama tetangga, kalau air tinggal ambil dari sumur meski berbau dan keruh,” cerita Ambar.(B1)
Share this post :
 
Support : Creating Website | Kang Lintas | Lintas Daerah
Copyright © 2011. Metro Post News - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Kang Lintas
Proudly powered by Lintas Daerah