Headlines News :
Home » , , , , » Terkait Penangkapan PSK Asal Maroko Imigrasi Optimalkan Pengawasan Orang Asing

Terkait Penangkapan PSK Asal Maroko Imigrasi Optimalkan Pengawasan Orang Asing

Written By Metro Post News on Jumat, 05 Desember 2014 | 13.09

Bogor - Kantor Imigrasi Wilayah II Bogor, Jawa Barat, akan mengoptimalkan pengawasan terhadap orang asing guna mencegah terjadinya praktik prostitusi seperti yang dilakukan wanita asal Maroko.
"Pengawasan harus ditingkatkan, Tim Pora (Pengawasan Orang Asing) harus dioptimalkan. Jangan sampai kejadian ini terulang kembali," kata Kasubid Penyidik Keimigrasian Dirjen Imigrasi, Kementerian Hukum Hak Asasi Manusia (HAM) Bambang Catur, Kamis (4/12).
Bambang menjelaskan, terungkapnya kasus prostitusi yang dilakukan wanita Maroko bukan yang pertama. Pada tahun 2012 saat dirinya menjabat kepala Kantor Imigrasi Wilayah II Bogor juga sudah mendeportasi dua wanita asal Timur Tengah yang berpraktik sebagai penjaja seks komersial.
Menurut Bambang, keterbatasan personel dalam pengawasan keimigrasian menjadi salah satu kendala tersendiri sehingga praktik tersebut kembali terjadi di wilayah Puncak. Saat ini jumlah pegawai Kantor Imigrasi Bogor sebanyak 65 orang, sedangkan petugas Pengawasan dan Penindakan Keimigrasian hanya berjumlah tujuh orang.
"Karena itu, ke depan kita perintahkan Kantor Imigrasi Wilayah II Bogor untuk menyiapkan operasi secara terkoordinasi dan terencana, agar kondusif dan tidak ada lagi pelanggaran oleh orang asing," kata Bambang.
Bambang mengatakan, dengan diefektifkannya Tim Pora diharapkan dapat menekan tindak kejahatan yang dilakukan orang asing.
Sementara itu, Kepala Kantor Imigrasi Bogor, Herman Lukman menjelaskan, keberadaan wanita Maroko tersebut telah meresahkan masyarakat sekitar. Para wanita Maroko itu menempati sebuah vila di beberapa lokasi di kawasan Puncak. Mereka ada yang sudah satu bulan tinggal di Puncak dan ada juga baru satu minggu bahkan satu hari.
Rata-rata wanita Maroko yang terjaring razia petugas tersebut berusia antara 20 sampai 30 tahun. Mereka khusus bekerja melayani wisatawan asing yang ada di kawasan tersebut.
Untuk sekali pakai, mereka dikenai tarif mulai dari Rp 2 juta sampai Rp 5 juta untuk short time. Cara memesan mereka juga bermacam-macam, ada yang melalui perantaran orang lokal, ada juga yang menjajakan diri sendiri. "Mereka kerap keluar setiap magrib dan melakukan pesta setiap malam, sehingga menggangu ketertiban umum," kata Herman.
Ditjen Imigrasi dan Kantor Imigrasi menangkap 19 wanita asal Maroko dalam operasi gabungan pengawasan orang asing di kawasan Puncak Rabu (3/12) malam.
Penulis: /WBP
Share this post :
 
Support : Creating Website | Kang Lintas | Lintas Daerah
Copyright © 2011. Metro Post News - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Kang Lintas
Proudly powered by Lintas Daerah