Headlines News :
Home » , , , , » Langkah Cepat Pemprov DKI Agar Banjir Cepat Surut

Langkah Cepat Pemprov DKI Agar Banjir Cepat Surut

Written By Metro Post News on Kamis, 12 Februari 2015 | 12.18

Jakarta - Banjir besar yang kembali melanda Kota Jakarta telah membuktikan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI belum bisa menyelesaikan permasalahan banjir di Ibu Kota. Meski untuk menghilangkan banjir dibutuhkan waktu yang cukup panjang, namun bukan berarti membuat DKI pasrah saja. Tahun ini, Pemprov DKI fokus kepada mengendalikan banjir agar lebih cepat surut. Saat ini, Pemprov DKI telah menyiapkan langkah cepat untuk pengendalian banjir. Dengan anggaran sebesar Rp 2,75 triliun diharapkan banjir di Jakarta tahun ini dalam hitungan jam bisa surut dengan cepat. Kepala Dinas Tata Air DKI Jakarta, Agus Priyono Jendro, mengatakan pihaknya telah diinstruksikan harus bisa mengendalikan banjir agar lebih cepat surut. Beberapa langkah telah disiapkannya untuk mencapai target tersebut di tahun ini. Langkah andalan agar banjir atau genangan cepat surut adalah menjaga 555 pompa air yang tersebar di lima wilayah dapat berfungsi dengan baik. Sehingga saat banjir, ratusan pompa tersebut bisa menyedot air ke sungai dan laut terdekat. “Andalan kita masih pompa air. Untuk menyelesaikan pembangunan infrastruktur penanganan banjir secara keseluruhan membutuhkan waktu yang lama,” kata Agus, Kamis (12/2). Berdasarkan data Dinas PU DKI, di wilayah Jakarta Barat, terdapat 149 pompa air. Dengan rincian 100 pompa stasioner, 45 pompa mobile dan empat pompa underpass.‎ Dari jumlah itu, ada 104 yang berkondisi baik dan 45 pompa lainnya berkondisi rusak. Ratusan pompa itu tersebar di 32 rumah pompa, yang ada di delapan kecamatan wilayah tersebut. Di wilayah Jakarta Pusat terdapat total pompa air berjumlah 120 unit, di Jakarta Selatan ada 113 unit, di Jakarta Timur memiliki total pompa sebanyak 56 unit, dan di wilayah Jakarta Utara, total pompa air di wilayah itu 117 unit serta 149 pompa di wilayah Jakarta Barat. Lalu tahun ini, pihaknya juga akan memasang enam pompa besar di muara-muara sungai. Keenam pompa air besar itu ada di Pompa Kamal, Pompa Angke, Pompa Marina, Pompa Karang, Pompa Sentiong dan Pompa Sunter Hilir. Pemasangan enam pompa air besar ini membutuhkan waktu dua hingga tiga tahun. “Dengan adanya pompa di muara-muara sungai tersebut diharapkan dapat mengatasi banjir rob di pesisir utara Jakarta. Kan di wilayah utara Jakarta, ada 40 persen dataran rendah,” ujarnya. Namun, banjir rob tidak bisa diselesaikan hanya dengan pompa air saja. Tetapi harus diiringi dengan peninggian tanggul laut, turap dan pengerukan sungai serta pembuatan polder air. Bentangan tanggul laut di pesisir utara Jakarta sepanjang 32 kilometer (km). Namun, yang menjadi tanggung jawab pemerintah hanya sepanjang 8 km. Dari panjang 8 km, yang menjadi tanggung jawab Pemprov DKI sepanjang 4 km dan Kementerian Pekerjaan Umum sepanjang 4 km. Untuk peninggian tanggul laut ini dialokasi anggaran sebesar Rp 3,2 triliun. Dari anggaran tersebut, Pemprov DKI mendapatkan alokasi anggaran Rp 1,6 triliun untuk meninggikan tanggul laut sepanjang 4 km. Peninggian tanggul laut atau pantai ini akan dimulai tahun 2015. Pihaknya akan memprioritaskan daerah-daerah yang tanggul lautnya masih rendah. Tanggul laut yang akan ditinggikan itu adalah tanggul laut di Kamal, Tanjungan, Kali Asin, Luar Batang, RE Martadinata, Cilincing dan Marunda. Di luar itu, seperti tanggul laut di kawasan Ancol akan ditangani PT Pembangunan Jaya Ancol. Untuk pembangunan polder, Pemprov DKI merencanakan membangun 47 polder air. Hingga saat ini, baru 36 polder yang sudah terbangun di lima wilayah DKI. Sisanya, 11 polder akan diupayan dibangun tahun ini. Sebanyak 11 polder yang akan dibangun adalah Polder Kapuk Poglar, Polder Jelambar Timur, Polder Sunter Timur 1B, Polder Sunter Tiur II Kebantenan, Polder Timur II KBN, Polder Sunter Timur II Petukangan, Polder Marunda dan Polder Tanjungan/Tegal Alur. Agus menegaskan, untuk pengendalian banjir di wilayah Selatan Jakarta, pihaknya akan membuat banyak sumur resapan. Karena banyak air hujan yang tidak teresap kedalam tanah sebagai dampak dari pembangunan gedung-gedung tinggi di wilayah ini. “Di selatan, kita akan buat sumur resapan, supaya nggak semua mengalir ke jalan. Karena semua tanah di Jakarta ini, sudah tertutup oleh bangunan,” tuturnya. Diungkapkannya, sebanyak 80 persen air hujan tidak terserap ke dalam tanah dan langsung mengalir ke saluran air. Sayangnya, saluran air di Jakarta tidak mampu menampung begitu banyak air hujan. Sehingga pihaknya akan membuat sumur resapan di bantaran sungai dan di daerah selatan. “Kita juga akan bebaskan danau. Supaya air hujan bisa ke danau dan kita resapkan. Karena selama ini danau hanya sebatas tampungan sementara saja. Kita mau rancang, air hujan tidak langsung dibuang ke laut, tetapi diresapkan supaya dapat digunakan langsung oleh kita,” imbuhnya. Tampaknya warga Jakarta masih lama menikmati Jakarta bebas banjir. Dari strategi pengendalian yang dilakukan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta, banjir Jakarta baru tuntas pada 2035. Itu pun menghabiskan biaya yang sangat besar, mencapai Rp 118 triliun. Dinas Tata Air sendiri telah menyiapkan strategi pengendalian banjir di Jakarta. Strategi itu dibagi menjadi tiga kegiatan penanganan banjir sistem tata aliran air, yaitu kegiatan penanganan banjir sistem tata air aliran barat membutuhkan dana sekitar Rp 43 triliun, aliran tengah dengan dana sekitar Rp 34 triliun dan aliran timur Rp 41 riliun
Share this post :
 
Support : Creating Website | Kang Lintas | Lintas Daerah
Copyright © 2011. Metro Post News - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Kang Lintas
Proudly powered by Lintas Daerah